Sebuah Apriori: Film Adaptasi Novel, Nggak Banget!

Industri perfilman Indonesia kembali bangkit dari mati surinya melalui film AADC (Ada Apa Dengan Cinta) sekira 15 tahun yang lalu. Sebuah film remaja yang booming banget! Berbondong-bondong orang terutama kaum remaja memenuhi bioskop-bioskop. Saya sendiri tidak tertarik sama sekali waktu itu. Saya sempat menontonnya di televisi saja dan itu pun tidak tuntas. Kecewa? Nggak. Karena saya memang tidak suka menonton film. Ehehe…

Setelah AADC, bermuncullanlah film-film Indonesia yang meledak dan berkualitas (kata banyak orang) dengan beberapa genre, mulai dari horor, komedi, drama, dan nggak kalah booming, film yang mengangkat tema keislaman. Ciri khas lainnya adalah film Indonesia sering banget mengambil tempat syuting di luar negeri. Lagi trend kali yak! Trend lainnya adalah mem-film-kan novel. Ini yang saya nggak suka sebab saya merasa buang-buang waktu dan uang untuk sebuah ending cerita yang sudah bisa ditebak, diketahui malah!

Jika saya diminta memilih antara membaca novel atau menonton filmnya, saya langsung akan membuat keputusan untuk membaca novelnya! Saya lebih bisa menikmati alur cerita melalui membaca daripada menonton film. Saya juga memperoleh kedalaman dan kekuatan cerita dari sebuah novel ketimbang menonton film.

Nah, ada seorang teman yang setiap muncul film baru, terutama dengan judul-judul berbau Islam seperti ‘Surga yang Tak Dirindukan’, ‘Ayat-Ayat Cinta’ , ‘ Bulan Terbelah Di Langit Amerika” dan sejenisnya selalu ngomporin dan ngajakin aku buat nonton. Semangat sekali ngasih reviunya. Hmmm sudah nggak tertarik film, dikasih reviu pula, di mana asyiknya? Hehehe…

Sekali waktu, aku nggak bisa nolak, nontonlah kita berdua filmnya Raditya Dika, apa tuh judulnya? Lupa! Ya ampuun film apaan itu?  Kedua kalinya dan yang terakhir, film Habibi & Ainun, atau Ainun & Habibi yak? Lupa juga! Ternyata memang bagus, terutama penokohan Habibi oleh Reza Rahadian. Untuk sekuel kedua, Rudy Habibi, yang katanya bagus juga, saya tidak menontonnya. Sebab saya nggak tertarik dan nggak penasaran lagi.  Apa ya? Saya sering berapriori, film yang dibuat sekuelnya, biasanya ada kesan pemaksaan ide dan tidak bisa se-genuin di sekuel pertama. Berapa banyak film Indonesia yang karena booming dan ditonton jutaan orang lalu dibuatkan sekuel keduanya? Hihi..

Saya sempat pengen juga nonton film ‘Chrisye’ sebab ketertarikan saya dengan sosoknya dan penasaran dengan perjalanan ruhaninya. Tapi lagi-lagi, ya nggak harus menyengaja meluangkan waktu untuk datang ke bioskop. Kalau lagi beruntung, ya nonton dan kalau tidak ya nggak menyesalinya. Nggak lama juga akan diputar berulang-ulang di tipi. Meksi kata teman saya, sensasinya beda… Emang? Kalau nggak bisa nonton di tipi juga yo wes.. penting banget gitu?

Sekarang katanya lagi heboh film Ayat-Ayat Cinta 2 ya? Di tipi banyak artis bahkan beberapa tokoh masyarakat seperti Dien Syamsuddin dan Habibie, menyampaikan testimoni atau reviu tentang film ini, katanya baguuusss. Penasaran? Nggak! Ehehe…

Satu hal, saya masih kuat dengan apriori yang saya miliki, ide film sekuel kedua tidak akan se-genuin sekuel pertamanya. Nggak setuju? Nggak apa lah… Nggak maksa juga untuk setuju. Hihi..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s