Berasa Bego Naik Grabcar

Menjadi bagian modernisasi sedikit banyak memberikan kemudahan bagi kita. Jika tahun sebelumnya saya masih harus ngangkot atau naksi ketika hendak kemana-mana saat di luar kota, kini tinggal pesan grab atau gojek, sebuah aplikasi jasa transportasi berbasis internet. Wuiiih gak pake lama lagi, pesan sekarang lima menit kemudian datang mobilnya. Keren yak! Top buat orang di balik inovasi yang memudahkan ini.

Bicara soal layanan transportasi online, saya punya sedikit cerita ‘aneh’ dan jadi berasa bego banget. Ramadhan ini merupakan kali kedua saya dan beberapa teman lainnya harus mengikuti diklat di kota Bandung untuk semingguan gitu, lebih singkat dari tahun sebelumnya. Jika Ramadhan kemarin kami menumpang mobil salah satu teman, kali ini kami harus menggunakan transportasi publik dan travel bus menjadi pilihan kami karena waktu yang bisa menyesuaikan dengan pemesan. Meski demikian, tak sepenuhnya begitu sih… Karena travel minibus Bhinneka yang kami gunakan menggunakan sistem shuttle atau pool yang sudah punya jadwal keberangkatan dan kedatangan sendiri. Kelebihan dari sistem shuttle ini antara lain berangkat dan datang tepat waktu dan nggak kelamaan di jalan karena harus keliling nganter penumpang ke tujuan masing-masing. Kelebihan kedua, tempat duduk nyaman nggak berdesakan sebab jumlah penumpang sesuai jumlah kursi bus. Nggak enaknya, cuma satu, mesti ngecer lagi menuju shuttle bus dan tempat tujuan. Oh iya, fasilitas toiletnya ampuuun, memprihatinkan!

Nah… Setiba di shuttle bus Buah Batu, saya dan ketiga teman lainnya memilih menggunakan jasa grabcar karena masing-masing kami bawa koper lumayan gede. Nggak lama, grabcar datang. Driver-nya (sebutan bagi supir mobil online) masih muda mungkin sekira 30-40an tahun. Kami ajak ngobrol deh seputar nge-grabnya dia biar dianya nggak canggung dan bete. Dari shuttle bus ke hotel tujuan kami, ongkos yang harus kami bayar cuma 12 ribu. Murah bingit! sama kayak ongkos angkot berempat, lebih murah malah. Di tengah perjalanan, salah satu teman menegur driver “Kok Lurus Mas, bukannya belok ke Toha ya?” Kebetulan ia lama tinggal di Bandung selama kuliah jadi hafal banget jalan Bandung. Driver seolah nggak dengar, baru kemudian dia jawab begini “aplikasinya mengarahkan ke sini Mbak, nggak boleh keluar jalur aplikasi, kalau nggak nanti saya kena sanksi” Saya dan teman yang tadi negur bersitatap dan merasa aneh. Begitu juga teman lainnya. “Oh gitu ya, Mas?” Tanya masygul teman yang di samping driver. “Masak sih, Mas Aplikasi nggak tahu jalan?” Saya juga penasaran. “Ooo mungkin aplikasinya ngarahin ke jalur-jalur alternatif kali ya Mas, yang nggak macet.” Teman saya yang negur, mengira-ngira dan berpikir positif. Lagi-lagi driver pura-pura nggak dengar.

Beberapa saat kemudian, di depan sebuah hotel driver grab bilang, “kita nyampe Mas, aplikasinya menunjukkan kita harus berhenti di sini.” “Lho, tapi bukan ini hotelnya, Mas!” Di kepala saya semakin kuat meyakini bahwa ini ‘modus’. Berasa dibegoin. Tapi saya dan teman-teman nggak mau ribut. Mobil pun masuk entah hotel apa, lupa! untuk numpang muter balik dan sempat berhenti di halaman parkir. Driver pura-pura merasa aneh dan menyatakan kalau kami harus order ulang karena hotel tujuan di luar jalur yang aplikasi tunjukkan saat itu. Saya dan teman-teman mulai kesal. “Kok gitu ya, Mas?” Tanya teman sebelah supir (nada suaranya gamang, coba menahan diri di bulan Ramadhan)😂. “Kita kan ngasih alamat tujuan jelas, masak aplikasi google map nggak tahu dan nyasar?” Sahut saya. No respons. “Nggak tahu nih, ini yang kedua kalinya. Tadi pagi juga nyasar begini. Ya udah, biar saya anterin aja ke hotel tujuan nggak usah bayar.” Akhirnya driver memutuskan. Kembali kami bertiga di kursi belakang saling bertatapan. Mau nggak mau, kami bayar dua kali lipat dari seharusnya. Meski katanya gratis, driver nggak nolak tuh waktu dikasih uang 25 ribu. Kami juga masih punya rasa kasihan. Kapok! Satu kata yang muncul di kepala kami. Kesan pertama menggunakan jasa grabcar sudah kecewa. Nggak bakal lagi pakai grabcar!

Berbeda dengan pelatihan Ramadhan tahun lalu yang padat tugas mandiri, kali ini hampir seluruh tugas bersifat kelompok dan dikerjakan di kelas sehingga waktu luang selepas materi lebih banyak. Iya, karena ini pelatihan lanjutan soalnya. Pelatihan di mulai dari pukul 7.30 s.d. 17.00 dan mentok-mentoknya sampai jam 17.30. Saya dan teman-teman pun bisa cuci mata menikmati Bandung di malam hari. Saat waktu luang itu ada, kami refreshing jalan-jalan untuk sekadar mencicipi kuliner Bandung sebab bosan juga dengan menu hotel.  Kami lebih memilih gocar bagian dari aplikasi gojek ketimbang grab. Lebih profesional dan jujur. Setelah tiga kali naik gocar, kami makin yakin kalau driver grabcar yang pertama kami gunakan nggak jujur. Sebab nyatanya driver bisa saja mencari jalan alternatif di luar jalur google map tanpa takut sanksi untuk menghindari macet dan mengirit bensin.

Ada kesan angker dan takut saat kami mengetahui profil driver gocar yang akan mengantar kami nanti. Tiga kali pesan, dua driver bertampang sangar di fotonya dan satu bertampang ganteng. Yang sangar sudah separuh baya, keduanya berasal dari Medan. Menurut keduanya, driver gocar banyak juga yang dari Medan. Ketakutan kami sedikit demi sedikit hilang setelah ngobrol dengan mereka. Pertanyaan kami standar, soal nge-gocarnya mereka. Sampai saya bilang ke teman mungkin driver sudah hafal pertanyaan yang akan diajukan penumpang dan bosen juga kali jawabnya yak? Tapi mereka tetap ramah kok ngejawabnya. Kami ngobrol banyak hal akhirnya.

Pertama kali naik gocar, kami dapat driver lelaki paruh baya beraksen Medan. Kami juga dapat voucher 3 ribu. Tujuan kami adalah Herritage Factory Outlet untuk wisata kuliner. Yang lucu, drivernya nanya, “ini bayarnya cuma 3 ribu?” “Nggak, Pak… Itu kami pake voucher dari gojek, kami akan bayar sisanya.” Jawab saya. Nggak tahu kali yak, kalau ada sistem pembayaran pakai voucher. Gimana nih, manajemen Gojek? Sesampainya di tujuan, saya basa-basi nanya “Jadi kami harus bayar berapa, Pak?” “3 ribu, kan?” Jawabnya ringan. Ya ampuuun nih Bapak polos banget! Muter-muter jauh gini cuma bayar 3 ribu? Bagaimana kalau penumpangnya nyeleneh dan nggak jujur? Bisa dibayar 3 ribu beneran. Kami pun memberikan sisa ongkosnya, 20 ribu. “Ini Pak, sisa ongkosnya. Makasih ya, Pak!”

Gocar kedua yang kami pesan pun disupiri oleh orang Medan, bapak paruh baya. Nggak nyampe 5 menit pesan, kami lansung dihubungi untuk memastikan pemesanan. Rupanya ini menjadi ciri khas gocar, sebagai antisipasi pesanan tipuan. Karena prosesnya sama seperti saat pemesanan gocar yang pertama. Kami minta dijemput di RS. Hasan Sadikin selepas menjenguk kakak teman yang sedang menjalani pengobatan. Meski sudah pernah disupiri orang Medan, tetap saja kami masih takut ketika melihat profil drivernya. Lagi-lagi kami coba mencairkan suasana dengan ngobrol banyak hal. Sedikit nggak nyaman sebenarnya sebab mobilnya berpendingin tapi bau asap rokok sangat menyengat. Tenggorokan saya seolah tercekik seperti terpapar gas air mata. Saya perhatikam teman saya enjoy aja jadi mau ngomong ke driver juga nggak enak. Kami semakin nggak nyaman ketika gocar muter-muter nyari jalan alternatif, begitu kata supirnya. Kami berdua bersitatap dengan penuh waspada. Pikiran buruk menghinggapi kepala kami. Suasana malam dan jalanan sepi. Kami hanya berdoa di dalam hati masing-masing. Saya menyesal kenapa pisau buah yang selalu saya bawa saat bepergian, saya tinggal di hotel (ahaha… Parno!) Memang kami hanya bawa dompet saja waktu itu. Alhamdulillah, akhirnya sampai hotel. Rupanya pak driver-nya juga rada bingung rute jalannya, soalnya nyari jalan alternatif. Tuh kan… driver grab bohong kalau nggak bisa cari jalur selain yang ditawarkan aplikasi. Pantesan waktu itu, aplikasi google map di hp-nya ditaruh di bawah dashboard-nya seolah nggak mau dilihat penumpang. Beda dengan driver gocar, aplikasi google map-nya selalu diletakkan di atas dashboard bahkan driver ganteng menaruhnya di tempat khusus di atas pintu sebelah kanan.

Pemesanan gocar yang ketiga ini cukup mengesalkan. Lama responsnya. Waktu itu, di hari terakhir pelatihan, jam 2 siang acara selasai. Hanya saja, penutupan dilaksanakan malam hari selepas isya. Tujuan kami adalah pusat belanja Pasar Baru. Kami berpikir, mungkin driver gocarnya pada ogah karena itu jalur macet jadi proses pencarian driver-nya lama. Loading muter-muter. Kami coba beberapa kali, tersambung dan putus lagi koneksinya. Akhirnya dapat driver ganteng itu. Penampilannya gaul dan kekinian, mengenakan kacamata hitam dan bertopi. Rupanya ia cukup relijius. Aksesori gantungan mobilnya bergambar salib. Saya perhatikan gelangnya juga berukir salib, entah perak atau tembaga. Model gelangnya seperti gelang nama bagi yang berhaji itu loooh. Musik yang disetelnya juga lagu-lagu barat masa kini. Kali ini bukan dari Medan tapi dari Purwokerto, kalo nggak salah inget. (Kalau pengamatan sekilas saya, wajahnya nggak Njawa banget, tapi wajah sebrang). Canggung kaminya, driver nggak ngomong kalau nggak ditanya. Kami diantar hingga pintu utama padahal jalanan macet banget. Nah pas jelang Pasar Baru, hp temen saya bunyi. Rupanya dari salah satu driver gocar yang mungkin kita pesan berulang tadi yang putus nyambung dan belum sempat dibatalkan. Dia bilang sudah di depan hotel. Yaaak, pesan kapan nyampenya kapan! Lagian dia nggak nelpon pas dapat pesanan. Yo wes, orang kita sudah sampai tujuan. Kalo nunggu mas-nya ya bisa nggak jadi berangkat. Kata driver gantengnya memang sering terjadi begitu. Jika belum dibatalkan dianggap pesanan berlangsung. Tapi kenapa dia nggak nelpon sewaktu dapat orderan seperti biasanya? Akhirnya driver gocar yang di ujung telepon pun menerima alasan teman saya.

Alhamdulillah… sampai juga di Pasar Baru. Dengan harga gocar murah meriah, di jalur macet tapi kami masih dilayani. Matursuwun ya, Mas!

Pulang dari Pasar Baru jelang maghrib kami coba hubungi gocar berkali-kali tapi lagi-lagi sulit responsnya. Jaringan selalu terputus. Gocarnya mondar-mandir nyari driver yang terdekat dan ready😀. Nihil! Akhirnya setelah bertanya kesana-kemari ke orang sekitar, kami disarankan naik bus damri. Lama juga nunggunya bahkan kami harus nyusul busnya yang terjebak macet di belakang. Uuuh lega setelah naik bus. Alhamdulillah dapat bangku lagi! tapi ada seorang ibu yang naik bareng nggak dapat kursi, saya buru-buru bangkit dan menyilakan beliau untuk duduk. Nggak papa, sudah biasa berdiri di bus. Setelah sekira 15 menit, lelaki di sebelah ibu yang saya tawari bangku dan sudah dari sebelum saya duduk di situ menawarkan bangkunya ke saya. Ehehe… Nggak enak kali dia. Makasih ya, Mas!

Pulang pelatihan, kami pun menggunakan jasa gocar atau grab ya? Lupa, soalnya teman yang pesan. Jam 6 pagi kami check out dari hotel menuju shuttle bus travel. Hampir saja kelewatan karena kita bareng drivernya ngobrol ngalor-ngidul. Ongkosnya murah bingiit…12 ribu. Kami pun memberikan uang lebih. Saya yakin, kalo penumpang rombongan nggak tega untuk ngasih ongkos pas sesuai tarif.

Itulah sedikit kesan menggunakan jasa transportasi online kekinian yang murah dan praktis. Hati-hati kena modus drivernya.

Iklan

One response to “Berasa Bego Naik Grabcar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s