Sebaris Doa dalam Sekantung Pisang

Hari beranjak sore ketika sampai sepertiga perjalanan pulang gawe. Perut sebenarnya sudah sedari pagi menahan lapar. Seharian ini baru diisi air putih dan pisang temuan sisa kemarin di dalam tas. Namun kebiasaan buruk saya sulit dihilangkan. Saat pekerjaan menumpuk, enggan beranjak meski sekadar ke toilet, apalagi makan.

Sore ini rasa lapar tak bisa ditahan. Maka saya putuskan untuk membeli camilan di tengah perjalanan. Hmmm beli apa ya, untuk sekadar mengganjal perut agar tidak protes. Yang ada hanya penjual jajanan otak-otak. Akhirnya saya putuskan untuk membeli. Sambil menunggu penjual menyiapkan pesanan, dari kejauhan tampak seorang ibu membawa bakul di pinggangnya menuju ke arah saya. Usianya sekira 50an lebih.

Sesampainya di hadapan saya, ia langsung memberondong saya dengan sedikit memaksa dan setengah memelas. ” Ibu tolong beli petai dan pisang saya bu… Dari pagi saya keliling nggak ada yang beli. Saya butuh ongkos buat pulang.” Ia mengangsurkan 4 papan petai ke wajah saya. Saya tatap wajahnya yang tampak lelah. “Memangnya ibu pulang kemana?” “Saya pulang ke Sidawangi, Bu…” Jauh ya..!” Balas saya sambil mengamati isi bakulnya. “Maaf, Ibu… Saya tidak makan petai” jawab saya halus. ‘Saya beli pisangnya saja ya, berapa?” Padahal di rumah masih ada sesisir pisang.

“Ini 25.000 saja” ditunjukannya sesisir pisang ambon ukuran cukup besar dan harga normalnya sekira Rp 14.000 an. Saya tahu karena rutin membeli pisang.” Ya sudah, saya ambil.” “Bu, kalau tambah ini (dia menunjukkan sesisir kecil pisang uli) jadi 50.000 saja.” “Wah saya butuh 1 sisir saja, Bu….” “Nggak apa-apa, Bu.. nanti bisa dibagi ke tetangga.” Tanpa meminta peesetujuan saya, dia masukkan sesisir pisang ambon cukup besar, 2 sisir kecil pisang uli, sesisir kecil pisang ambon mengkal, dan beberapa buah pisang yang sudah potek bahkan ada yang busuk ke plastik besar yang ia minta ke abang penjual otak-otak.

“Ini Bu, 50.000 aja!” Saya melongo. ” Ibu, saya ambil 1 saja dan saya bayar 25.000 ya?!” Saya cukup dibuat kesal juga dengan nada memaksanya. ” Ambil semua saja, Bu… Sudah saya bungkuskan.” Saya tak bisa menolak, dan mengangsurkan satu-satunya lembaran 50.000 an yang rencanya akan dipakai untuk mendaftarkan lomba anak didik saya.

Dengan wajah berbinar, wanita itu segera mengambilnya. “Mudah-mudahan rejeki ibu makin banyak ya, Bu…” “Aamiin… Doain saya biar sehat terus ya, Bu!” Saya menimpali. “Mudah-mudahan sehat dan banyak rejeki…” Kembali saya mengaminkan. Mudah-mudahan saja doanya dari hati. Ia bergegas pergi dengan bakul kosong yang tersisa 4 papan petai.

Bapak paruh baya yang dari tadi duduk di sebelah saya mulai membuka suara setelah kepergian ibu penjual pisang. “Pisang itu harganya 50.000, bu?” Ia menunjuk plastik berisi pisang. “Iya, Pak.” “Orang sekarang ya, jualan suka memaksa dan pakai trik.” Maksud Bapak, gimana?” Tanya saya. ” Ya kayak tadi itu… Maksa-maksa.” “Bapak sering lihat ibu tadi?” “Iya, kebanyakan yang jualan bakulan seadanya itu orang Sidawangi di sini.” ” Kok jualannya jauh, ya?” Saya penasaran. “Mereka bawa barang dagangan dari desanya?” “Nggak gitu, mereka belanja di pasar sini, terus dijual keliling di sini juga.” Ooh jadi mereka bawa bakul kosong dari rumahnya ternyata.. hmmm

“Pak, suka pisang? Saya bagi dua dengan bapak ya?” Saya membuka plastik dan mulai mengeluarkan separuh pisang. “Eh, jangan Bu… nggak usah, buat orang di rumah.” “Nggak apa-apa, Pak, ini kebanyakan, takut nggak kemakan.” “Bener, Bu? Makasih ya, Bu..!” Saya mengangguk dan melanjutkan perjalanan.

Keesokan harinya, di jam yang sama dan tempat yang sama, saat melintas lampu merah saya melihat ibu itu kembali dengan bakulnya tengah merayu dan sepertinya sedikit memaksa seseorang untuk membeli pisangnya.

Mungkin apa yang dikatakan Bapak tadi bisa jadi benar atau salah, soal memaksa dalam jual-beli. Sebenarnya, saya juga gak mungkin menolak membeli pisang ibu itu, karena saya orangnya tidak tegaan. Lihat penjual mendorong gerobak dagangan, abang narik becak kosong, angkot kosong, penjual keliling malam-malam, tukang sol di terik matahari… batin saya selalu menangis. Pedih rasanya. Dalam hati selalu berdoa “semoga jualannya aris ya Pak…Bu… semoga segera ketemu penumpang ya, Bang… Semoga ada pembelinya ya… selalu begitu. Seringkali saya beli makanan, barang, tabloid yang sebenarnya saya tidak perlu. Semua hanya karena rasa iba. Jika ada peminta-minta apalagi jika audah sepuh dan posisi saya sedang makan, selalu saya tawarkan makan atau langsung meminta dibungkuskan makanan untuknya.

Tetapi memang, tak sedikit orang yang begitu membutuhkan uang tanpa mau mengemis. Mereka menjual barang apa pun yang dimilikinya meski sebenarnya tak layak jual. Pernah suatu ketika, saat sedang makan di kaki lima, seorang ibu menghampiri dan mengangsurkan lipatan kain sarung lusuh dan seliter beras kepada saya dan teman makan.

‘Neng, tolong ibu, beli kain sarung dan beras ini. Ibu hanya butuh 20.000 saja buat makan.” Saya trenyuh melihatnya. “Ibu mau makan? Ayo bareng kami..” saya tawarkan makan kepadanya. Ia menggeleng dan wajahnya semakin memelas, ia memaksa saya menerim kain sarungnya. Saya bingung.. saya mengintip dompet kecil saya. Ya Allah… Pas banget, cuma ada 1 lembar 20.000 an. Sedih banget lihat ibu itu…

“Ibu… Sarung dan berasnya, ibu bawa pulang saja ya. Ini ada sedikit uang buat ibu” saya menahan tangis. “Enggak Neng, ibu nggak mau minta-minta. Neng, ambil berasnya saja ya!” Ia mengangsurkan kantung beras. Saya tersekat, menatap teman makan meminta saran lewat tatapan mata. Teman saya bilang “ya udah, ambil saja!” Ahirnya saya ambil beras itu dari tangan si ibu.. Ia tampak senang.

Sungguh banyak di luar sana yang hidupnya begitu sulit bahkan untuk sekadar sesuap makan. Di sisi lain, apa yang kita miliki tidak selayaknya ditahan-tahan dan ditumpuk. Banyak peristiwa kematian yang menunjukkan bahwa semua yang kita punya; harta, keluarga, dan semuanya akan ditinggal, bahkan sebelum kita menghitungnya. Maka, sebaik-baik harta adalah apa yang telah diberikan kepada yang berhak atasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s