Heroisme; Gen Bawaan?

Pernah dengar kisah Mary Rose yang menyelamatkan belasan muridnya dari serangan brutal seorang remaja yang tak bertanggung jawab? Pernah baca kisah heroik Park Jee-Young, seorang awak kapal perempuan, yang rela melepas pelampungnya untuk penumpang kapal agar penumpangnya selamat sementara nyawanya melayang, dalam menolong korban kecelakaan kapal Sewol di Korea Selatan? Dan yang juga tak kalah mengharukan seorang perempuan bernama Afsha Ahmed, menyerahkan nyawanya untuk melindungi murid-muridnya dari berondongan peluru tentara Taliban. Perasaan kasih menutup logika Afsha untuk menyelamatkan diri, bahkan dengan gagahnya ia berucap: “Kalian hanya bisa membunuh mereka setelah melewati mayatku.” Sebagai imbalannya, siraman bensin dan api menghanguskannya.

Apa yang membuat para perempuan biasa itu memiliki keberanian luar biasa? Apa yang membuat mereka siap mengorbankan keselamatan jiwa mereka? Itu kah wujud sebuah heroisme? Saya yakin ada banyak sosok hero atau pahlawan di sekitar kita. Kamu memiliki pahlawan yang begitu berarti dalam hidupmu, begitu juga saya. Siapa pun dia bisa menjadi pahlawan bagi orang lain. Guru, dokter, pedagang, ustadz, pendeta, bahkan seorang bocah bisa menjadi sedemikian berjasa dalam hidup seseorang. Berjasa bukan hanya soal materi, mengorbankan nyawa tetapi bagaimana mereka menginspirasi dan mengubah dunia seseorang menjadi labih baik.

Seorang Arthur Ashe menyatakan; “Benar kepahlawanan adalah sangat sederhana, sangat terlihat terlalu dramatis. Ini bukan dorongan untuk mengungguli semua orang lain pada hal apapun, namun dorongan untuk melayani orang lain dengan pengorbanan  apapun.”

Apa Itu Heroisme?

Kepahlawanan adalah sesuatu yang sangat dihargai di seluruh budaya, tapi bagaimana tepatnya kita mendefinisikan seorang pahlawan? Apa yang menginspirasi beberapa orang untuk mengambil tindakan heroik? Sementara para peneliti tahu banyak tentang apa yang menyebabkan orang untuk melakukan tindakan yang digambarkan sebagai jahat, pemahaman kita tentang apa seorang pahlawan tidak begitu jelas. Menurut Proyek Heroik Imajinasi, sebuah organisasi non-profit yang berfokus pada mengajari orang untuk menjadi pahlawan, kepahlawanan melibatkan perilaku atau tindakan atas nama orang lain atau untuk tujuan moral. Mereka mengidentifikasi empat elemen kunci kepahlawanan:

  • Tindakan sukarela
  • Dilakukan untuk pelayanan orang atau masyarakat yang membutuhkan
  • Melibatkan beberapa jenis risiko baik fisik, sosial, atau dalam hal kualitas hidup
  • Dilakukan tanpa perlu balasan atau keuntungan materi

Beberapa perilaku heroisme melibatkan tindakan besar seperti membahayakan kehidupan seseorang untuk menyelamatkan orang lain, sementara yang lain berupa tindakan kecil, tindakan sehari-hari yang dirancang untuk membantu manusia lain yang membutuhkan. Psikolog Frank Farley membuat perbedaan antara apa yang dia sebut “Big H Heroism” dan “small h heroism.” Big H melibatkan risiko yang signifikan, meliputi kematian, cedera, penjara, serta konsekuensi serius atau penting lainnya.” Small h, di sisi lain, “adalah kepahlawanan sehari-hari, membantu orang lain, melakukan perbuatan baik, menunjukkan kebaikan, dll, di mana kerugian atau besarnya konsekuensi serius biasanya tidak ada.”

Mengapa Seseorang Menjadi Pahlawan?

Sekarang kita tahu lebih banyak tentang apa kepahlawanan. Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa orang menjadi pahlawan? Farley menunjukkan bahwa ada dua faktor kunci yang mendasari tindakan agung kepahlawanan yang melibatkan risiko kerugian pribadi: perilaku pengambilan risiko dan kemurahan hati. Orang-orang yang mempertaruhkan hidup mereka dalam sebuah pelayanan  karena naluri kemanusiaan, lebih mungkin untuk mengambil risiko yang lebih besar dan mereka juga memiliki banyak kasih sayang, kebaikan, empati, dan altruisme.

Para peneliti telah lama mengetahui bahwa umumnya, jika ada dua orang dan hewan lebih mungkin untuk membantu orang-orang yang memiliki hubungan genetik, sebuah konsep yang dikenal sebagai seleksi keluarga. Dalam kasus lain, kita membantu orang lain dengan harapan bahwa suatu hari nanti mereka mungkin membantu kita, ide ini dikenal sebagai pengorbanan timbal balik. Tapi bagaimana dengan jenis altruisme yang tidak bergantung pada kekerabatan atau mengharapkan beberapa jenis pengembalian? Dalam kasus tersebut, situasional, budaya, dan variabel kepribadian dapat memainkan peran penting. Setelah orang mengambil tindakan heroik, mereka sering mengklaim bahwa mereka tidak melihat diri mereka sebagai pahlawan; bahwa mereka hanya melakukan apa yang orang lain akan lakukan. Dalam menghadapi situasi hidup, kekuatan dan kemiripan situasi dapat menginspirasi beberapa orang untuk mengambil tindakan.

Di satu sisi, kekuatan situasional ini sama menginspirasi beberapa individu untuk bertindak heroik. Di lain sisi, heroisme mereka dapat benar-benar mencegah orang lain untuk membantu. Maksudnya bagaimana? Ketika krisis muncul di hadapan banyak orang, kita sering jatuh ke dalam perangkap kelambanan dan mengandalkan orang lain dengan mengasumsikan bahwa orang lain akan menawarkan bantuan, sebuah fenomena yang dikenal sebagai bystander effect. Karena tanggung jawab pribadi yang disebarkan oleh kehadiran orang lain, kita percaya bahwa orang lain akan mengambil peran untuk membantu. Hasilnya, saling mengandalkan orang lain dan rupanya inilah salah satu penyebab mengapa pertolongan lambat diberikan. Beberapa orang juga mungkin memiliki ciri kepribadian yang memengaruhi mereka untuk berperilaku dengan cara altruistik dan heroik. Bagi mereka yang memiliki jiwa heroik, dalam situasi sulit cenderung untuk segera dan secara tidak sadar bertindak ketika terjadi keadaan darurat.

Apakah Pahlawan Dilahirkan atau Dibentuk?

Apakah kepahlawanan sesuatu yang merupakan bawaan gen, atau kepahlawanan sesuatu yang bisa dipelajari? Beberapa orang berpendapat manusia dilahirkan baik atau buruk. Kita semua dilahirkan dengan kemampuan yang luar biasa ini bisa menjadi apapun. Kita bisa dibentuk oleh keadaan sekitar, keluarga, budaya atau periode waktu di mana kita bertumbuh.

Dahulu, seorang pahlawan dianggap manusia luar biasa bahkan dewa yang dipuja-puja. Sejatinya, pahlawan hanyalah manusia biasa sebagaimana lazimnya namun mereka melakukan hal yang luar biasa. Luar biasa di sini bermakna relatif bagi setiap orang. Menawarkan setetes air hanyalah soal sepele atau bahkan dituduh melecehkan. Bagaimana jika setetes air itu diberikan kepada seseorang yang hampir mati kehausan?

Jiwa kepahlawanan dapat ditanamkan pada setiap individu melalui latihan dan tempaan lingkungan. Individu yang sering dihadapkan pada masalah-maslah sosial atau tantangan hidup akan melahirkan sosok yang tangguh dan tanggap mengambil tindakan, sosok yang memiliki empati yang tinggi dalam kesehariannya.

Berikut 7 kualitas seorang heroik menurut beberapa ahli psikologi:

Tujuh Kualitas Heroik

  1. Pahlawan cenderung peduli dengan kesejahteraan orang lain. Menurut peneliti, empati dan kasih sayang terhadap orang lain adalah variabel utama yang berkontribusi terhadap perilaku heroik. Orang-orang yang bersegera membantu orang lain dalam menghadapi bahaya dan kesulitan, melakukannya karena mereka benar-benar peduli tentang keselamatan dan kesejahteraan orang lain.
  2. Pahlawan pandai melihat sesuatu dari perspektif orang lain. Para peneliti menunjukkan bahwa pahlawan tidak hanya penuh kasih dan peduli; mereka memiliki bakat untuk bisa melihat sesuatu dari perspektif orang lain. Mereka bisa ‘berjalan satu mil dengan sepatu orang lain’ ketika akan berbicara atau bertindak. Ketika mereka menghadapi situasi di mana seorang individu membutuhkannya, mereka langsung bisa melihat diri mereka dalam situasi yang sama dan melihat apa yang perlu dilakukan untuk membantu.
  3. Pahlawan kompeten dan percaya diri. Dibutuhkan keterampilan dan kepercayaan diri untuk bergegas di mana orang lain takut untuk melangkah. Para peneliti menunjukkan bahwa orang-orang yang melakukan tindakan heroik cenderung merasa percaya terhadap diri dan kemampuan mereka. Ketika dihadapkan dengan krisis, mereka memiliki keyakinan intrinsik bahwa mereka mampu menangani tantangan dan mencapai sukses, tidak peduli ada atau tidaknya peluang. Bagian dari kepercayaan ini mungkin berasal dari keterampilan koping (mengatasi masalah) untuk mengelola stres.
  4. Pahlawan memiliki pedoman moral yang kuat. Menurut peneliti kepahlawanan Zimbardo dan Franco, pahlawan memiliki dua kualitas penting yang membedakan mereka dari non-pahlawan: mereka hidup dengan nilai-nilai mereka dan bersedia menanggung risiko pribadi untuk melindungi nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai yang dipegang dan keyakinan pribadi memberi mereka keberanian dan tekad untuk memikul risiko dan bahkan bahaya untuk mematuhi prinsip-prinsip tersebut.
  5. Pahlawan memiliki keterampilan dan pelatihan untuk melakukan tindakan yang tepat. Jelas, memiliki pelatihan atau kemampuan fisik untuk menghadapi krisis juga dapat memainkan peran utama mengenai apakah  seseorang menjadi pahlawan atau tidak. Dalam banyak kasus, terkadang semua orang tanpa alasan bergegas ke dalam situasi berbahaya justeru menimbulkan lebih banyak lagi kesulitan bagi tim penyelamat. Orang yang terlatih dan mampu, dengan pelatihan pertolongan pertama dan pengalaman, lebih siap dan mampu bertindak tepat ketika keterampilan mereka dibutuhkan.
  6. Pahlawan tetap bertindak bahkan dalam menghadapi ketakutan. Seseorang yang bergegas ke dalam gedung yang terbakar untuk menyelamatkan orang lain bukan hanya luar biasa berani; ia juga memiliki kemampuan untuk mengatasi rasa takut. Para peneliti menyatakan bahwa individu heroik adalah pemikir positif secara alamiah, yang memberikan kontribusi dengan kemampuan mereka untuk melihat bahaya dari situasi masa lalu dan melihat hasil yang lebih optimis. Dalam banyak kasus, orang-orang ini mungkin juga memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap risiko.
  7. Pahlawan tetap bekerja pada tujuan mereka, bahkan setelah beberapa kemunduran dan kegagalan. Ketekunan adalah kualitas lain yang biasa dimiliki oleh pahlawan. Dalam satu studi 2010, peneliti menemukan bahwa orang yang diidentifikasi sebagai pahlawan lebih mungkin untuk menilai positif peristiwa negatif. Ketika dihadapkan dengan penyakit yang berpotensi mengancam jiwa, orang dengan kecenderungan heroik lebih fokus pada kebaikan yang mungkin datang dari situasi seperti apresiasi baru untuk kehidupan atau kedekatan dengan orang yang dicintai meningkat.

Kepahlawanan merupakan sebuah panggilan jiwa yang hanya akan tumbuh pada jiwa insani yang welas asih, peduli, empati dengan sesama. Kepahlawanan itu universal, ia tak mengenal suku, bangsa, ras, dan agama. Kepahlawanan tanpa pamrih dan publikasi.

Bystander Effect

Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s