Bandwagon Effect

Sekira 3 atau 4 bulan lalu, kita dihebohkan dengan fenomena “om telolet om” yang viral di dunia maya bahkan seleb internasional terkena wabahnya. Media elektronik dan cetak pun mengulasnya. Anak-anak, tua-muda terpapar efeknya. Sebelumnya ada manequin challenge dan foto selfie ekstrim. yang juga viral dan mendunia. Fenomena terbaru adalah skip challenge yang kontroversial karena membahayakan pelakunya. Namun meski demikian, yang namanya tantangan benar-benar menantang rasa ingin tahu para remaja. Meski dilarang, tetap saja ada yang penasaran melakukannya. Satu lagi yang sedang ngetrend, saling lapor dan demo! Dampaknya banyak yang latah ikut lapor-melapor dan demo walau tidak tahu pasti alasan dan tujuannya. Wkwkwk

Saya dan mungkin publik bertanya-tanya, fenomena apakah ini? Dalam dunia psikologi, yang demikian ini disebut Bandwagon effect atau efek ikut-ikutan. Bandwagon effect mengacu pada kecenderungan orang untuk harus mengadopsi perilaku, gaya, atau sikap tertentu hanya karena “orang lain melakukannya.” Pada dasarnya, peluang kemungkinan setiap keyakinan, sikap atau perilaku akan diadopsi oleh banyak individu jika sejumlah besar orang lain juga telah mengadopsi hal itu. Psikolog mempertimbangkan efek ikut-ikutan sebagai bagian dari bias kognitif, yang merupakan kesalahan dalam pemikiran yang memengaruhi penilaian dan keputusan yang dilakukan orang. Bias kognitif sering dirancang untuk membantu orang berfikir dan beralasan lebih cepat, tetapi mereka sering salah perhitungan dan melakukan kesalahan.

Mengapa Bandwagon Effect Terjadi?

Individu sangat dipengaruhi oleh tekanan dan norma-norma yang diberikan oleh kelompok. Ketika tampaknya mayoritas kelompok melakukan hal tertentu, maka tidak melakukan hal yang dilakukan mayoritas menjadi semakin sulit. Tekanan ini dapat berdampak besar pada aspek yang berbeda dari perilaku, dari apa yang orang pakai, untuk siapa mereka memilih dalam percaturan politik.

Bandwagon Effect pada dasarnya adalah jenis pemikiran kelompok. Karena semakin banyak orang mengadopsi mode atau tren tertentu, semakin besar kemungkinan orang lain akan juga “melompat ikut barisan.” Ketika tampaknya bahwa setiap orang melakukan sesuatu, ada tekanan yang besar untuk menyesuaikan diri, yang memungkinkan perilaku ikut-ikutan cenderung terbentuk begitu mudah. Orang ingin menjadi benar. Mereka ingin menjadi bagian dari pihak yang menang. Salah satu alasan orang menyesuaikan diri adalah karena pandangan dan penilaian kelompok sosial mereka tentang apa yang benar atau diterima. Jika mayoritas melakukan hal tertentu, maka sekelompok kecil orang lainnya menganggap nilai yang dianut mayoritas adalah hal yang benar untuk dipegang dan dilakukan.

Rasa takut akan pengecualian juga berperan dalam bandwagon effect. Orang biasanya tidak ingin dipandang aneh di mata umum, sehingga bergabung bersama kelompok adalah sebuah cara yang diambil untuk mendapatkan penerimaan sosial. Kebutuhan untuk menjadi bagian kelompok atau mayoritas, adalah salah satu alasan individu untuk mengadopsi norma-norma dan sikap mayoritas untuk mendapatkan penerimaan dan persetujuan dari kelompok.

Sementara bandwagon effect bisa sangat kuat dan mengarah pada pembentukan tren, perilaku ini juga cenderung agak rapuh. Orang melompat ikut barisan dengan cepat, tetapi lompatan mereka itu hanya ikut-ikutan. Hal ini menjelaskan mengapa sebuah tren cenderung sangat singkat. Dampak dari tren bandwagon  ini sering relatif tidak berbahaya, seperti pada fashion, musik, mode atau budaya Pop. Pada kondisi tertentu, bandwagon bisa jauh lebih berbahaya. Ketika ide-ide dan keyakinan tertentu mulai dianut, seperti sikap tertentu terhadap masalah kesehatan, keyakinan bandwagon atau ikut-ikutan dapat memiliki konsekuensi serius dan merusak. Individu yang dipengaruhi oleh gerakan anti-vaksinasi, misalnya, menjadi kurang kemungkinannya untuk mendapatkan imunisasi rutin bagi anak-anak mereka dan mengabaikan kemungkinan menyerangnya wabah campak.

Meski bandwagon effect memiliki konsekuensi yang berbahaya, juga dapat menyebabkan adopsi perilaku sehat. Misalnya mayoritas orang menolak perilaku tidak sehat (seperti merokok) dan menganut pilihan yang sehat, orang akan menjadi lebih mungkin untuk menghindari pilihan berisiko dan terlibat dalam tindakan yang sehat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s