Menarik Itu Cerdas atau Cerdas Itu Menarik?

Pernah suatu hari, saya beradu pandang dengan pencopet di dalam bus. Apa pasal? Saya telah menggagalkan misinya! Mengamati gerak-geriknya, saya nerkesimpulan, ini orang jahat! (penampilannya mencurigakan gituuuuh) dan sedang mencari mangsa di padatnya bus kota. Ia terus memepet penumpang perempuan muda yang berdiri berdesakan di depan saya. Melihat gelagat nggak beres, saya pura-pura oleng menubruk perempuan itu dan mengingatkan agar ia berhati-hati pada lelaki di sampingnya. Rupanya ia mendengar dan segera waspada. Tatapan tajam lelaki itu ternyata merupakan sinyal dendam. Saat turun, saya kehilangan barang dan tas saya dalam kondisi terbuka dengan kondisi risleting tas baik-baik saja. Oh tidaaak! Dia menyayat tas saya?????!!!! Saya dicopetnya! Tapi copet itu pasti kesal karena yang ia ambil bukan dompet tapi hanya kotak kacamata! Nasiiib nasiiib!

Sebuah prolog di atas mingkin tidak berkaitan langsung dengan tema yang saya angkat kali ini tetapi setidaknya, menggambarkan realitas dan fakta umum bahwa, penilaian terhadap orang lain seringnya bermula dari tampilan dan karakter luar orang tersebut. Meski tak sedikit yang akhirnya kecele.

Demikian juga dengan stigma masyarakat kebanyakan dalam menilai seseorang itu pintar, cerdas, terpelajar atau tidak dengan hanya melihat peampilan luar, pada bagaimana seseorang memantaskan diri dengan pakaian dan aksesorisnya, pada brand yang terlihat, pada kinclong wajah dan kulit serta pada sikap dan tutur kata. Itulah yang namanya kesan pertama. Kesan tersebut akan terkonfirmasi saat kita berinteraksi secara langsung dengan mereka. Sekali lagi, meski akhirnya banyak yang kecele. Ehehe… buktinua banyak bingit koruptor yang begelar doktor, lulusan luar negeri, cantik, ganteng, kinclong, mulus dan perlente.S ebaliknya banyak sosok yang kita lihat pandang sebelah mata tetapi memiliki kualitas kepribadian dan kecerdasan di atas rata-rata atau bahkan luar biasa.

Saya justeru seringnya menemukan orang yang pandai sesungguhnya jauh lebih merendah ketimbang yang merasa dan mengaku-aku pandai. Orang yang kaya sesungguhnya lebih ‘menyederhanakan’ penampilan dari mereka yang ingin dianggap kaya.

Lalu apa hubungannya dengan judul di atas?

Maksudnya… Penampilan luar sering mengesankan karakter dan kepribadian seseorang secara keseluruhan itu memang benar. Maka tak heran, banyak orang yang berusaha keras untuk mendapatkan kesan dan penilaian yang baik dengan memoles penampilan luarnya. Tentu dengan juga kepercayaan diri.

Perempuan atau lelaki dengan penamplan trendi, rapi, kinclong, elegan dan menarik, siapa pun akan memberikan kesan positif. Rerata orang akan memberikan kesimpulan bahwa perempuan atau lelaki tersebut memiliki kehidupan yang baik, pendidikan dan karir yang bagus serta hidup yang bahagia. Tentunya mereka juga smart!  Apalagi jika keduanya mengenakan kaca mata. Wkwkwk. Jarang sekali orang memberikan kesan atau memercayai sosok cantik dan ganteng sebagai pelaku kriminal. Label kriminil cenderung melekat di kesan pertama pada sosok sangar, bertato, berwajah codet, atau berpenampilan punk.

Kenapa bisa begitu?

Itu namanya Efek Halo! Yaitu jenis bias kognitif di mana kesan kita secara keseluruhan terhadap seseorang memengaruhi bagaimana kita merasa dan berpikir tentang karakternya. Pada dasarnya, keseluruhan kesan kita tentang  seseorang (“Dia baik!”) merupakan dampak evaluasi kita dari sifat-sifat tertentu orang itu (“Dia juga pintar!”).

Efek Halo juga dikenal sebagai stereotip daya tarik fisik dan prinsip “apa yang indah itu baik”. Efek Halo, pada tingkat yang paling spesifik, mengacu pada kecenderungan kebiasaan orang untuk menilai individu yang menarik lebih menguntungkan untuk ciri-ciri kepribadian atau karakteristik dari mereka yang kurang menarik. Efek Halo juga digunakan dalam pengertian yang lebih umum untuk menggambarkan dampak global kepribadian yang menyenangkan, atau beberapa sifat tertentu yang diinginkan, dalam menciptakan penilaian bias dari orang yang menjadi target pada setiap dimensi. Dengan demikian, perasaan umumnya mengalahkan kognisi ketika kita menilai orang lain.

Jadi, mengapa kesan kita secara keseluruhan terhadap seseorang memengaruhi evaluasi kita akan sifat-sifat tertentu? Para peneliti telah menemukan bahwa, daya tarik merupakan salah satu faktor yang dapat berperan. Beberapa studi yang berbeda telah menemukan bahwa ketika kita menilai seseorang tampan atau cantik, kita juga cenderung percaya bahwa mereka memiliki ciri-ciri kepribadian positif dan bahwa mereka lebih cerdas. Satu studi bahkan menemukan bahwa juri kurang percaya bahwa orang-orang yang menarik berperilaku kriminal.

Namun, stereotip daya tarik ini juga bisa menjadi pedang bermata dua. Penelitian lain telah menemukan bahwa sementara orang lebih cenderung untuk menganggap sejumlah kualitas positif kepada orang-orang yang menarik, mereka juga lebih mungkin untuk percaya bahwa individu tampan dan cantik itu angkuh, tidak jujur, dan cenderung menggunakan daya tarik mereka untuk memanipulasi orang lain. Pandangan ini semakin nampak saat ini ketika banyak selebriti karbitan yang muncul di tv hanya bermodal wajah ganteng dan cantiknya. Isssshhhhh syirik yak!

Jadi, cerdas tidaknya seseorang tidak terkait dengan kesempurnaan fisik dan penampilan kaliii. Bagi saya sih jelas, cerdas itu menarik! Cerdas itu seksi! Ehehe.. Faktanya, menyadari Efek Halo, bagaimanapun, tidak membuat kita mudah untuk menghindari pengaruhnya terhadap persepsi dan keputusan kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s