Kenapa Kita Memilih Hal-hal yang Familiar, Biasa, dan Nyaman?

Saya sering tanpa sadar selalu memilih tempat duduk yang sama di suatu tempat makan. Tak hanya itu, menu pilihan saya tidak banyak, hanya seputar itu-itu saja tanpa tertarik untuk mencoba menu di luar kebiasaan, bahkan tidak untuk menu favorit atau baru, misalnya. Lalu saya berfikir, kok gitu ya? Hmmm mungkin saya sudah merasa nyaman dengan tempat duduk favorit? Malas eksplore menu baru yang belum jelas rasanya?

Tidak mengherankan bahwa orang-orang cenderung merasa paling nyaman berada di sekitar hal-hal yang familiar. Yang tidak diketahui dan tidak dikenal menimbulkan ancaman, yang mungkin bahkan bahaya. Kita sering merasa lebih aman dan kurang terancam oleh hal-hal yang kita tahu dan kenal dengan cukup baik.

Itu alasan kita selalu memesan hidangan favorit pribadi di restoran tertentu daripada memilih kesempatan untuk memesan hidangan baru dan asing. Kita tetap dengan menu favorit lama untuk menghindari kemungkinan kekecewaan. Barangkali itu sebabnya.

Tapi tunggu dulu! Ternyata apa yang saya alami ini rupanya jadi bahan kajian para ahli loh… Artinyaaa, bukan hanya saya yang mengalami hal ini. Ada banyak orang dan mungkin termasuk Anda? Para psikolog telah menemukan, bagaimanapun, bahwa orang juga cenderung menyukai hal-hal yang lebih sering mereka temui dan hadapi. Fenomena ini dikenal sebagai “efek paparan belaka” atau prinsip keakraban.

Singkatnya, orang sering mengembangkan pilihan untuk banyak hal hanya karena  hal tersebut lebih akrab dengan mereka. Seperti musik, lagu, merk produk, jenis makanan, dan banyak lainnya.

“Efek Paparan Belaka” dalam Kehidupan Sehari-hari

Kita biasanya lebih suka berada di sekitar hal-hal yang kita kenal, termasuk orang lain. Efek ini dapat memainkan peran dalam banyak aspek kehidupan sehari-hari kita loh, dari makanan yang kita makan hingga saham di mana kita memilih untuk berinvestasi. Ini berdampak pada pilihan kita untuk berlangganan pada supermarket dan restoran tertentu, produk yang kita beli, saham yang kita investasikan, dan bahkan orang-orang yang mengelilingi diri kita.

Rasa nyaman  dengan situasi familiar ini terkadang menyebabkan kita mengabaikan pertimbangan dan kemungkinan lain sehingga apa yang kita pilih dan putuskan bukanlah sesuatu yang optimal.

  • Apakah kita menginvestasikan saham di sebuah perusahaan karena hal itu benar-benar alternatif terbaik atau hanya karena kita kenal (dan karena itu, lebih nyaman) dengan perusahaan tersebut?
  • Apakah kita membeli produk untuk memenuhi kebutuhan atau hanya karena kita merasa paling nyaman dengan produk tersebut?
  • Makanan baru sering rasanya aneh atau bahkan buruk ketika kita pertama kali mencicipi, tapi setelah beberapa kali ‘dipertemukan’ kita menyukai atau bahkan ngefans makanan ini.

Iklan adalah area di mana konsep ini tidak diragukan lagi akan memainkan peran penting. Para pelaku pasar selalu bersemangat untuk melekatkan nama dan produk mereka di depan mata publik dan, siapa tahu mendapatkan kepercayaan dan bisnis dari konsumen yang mereka targetkan. Dalam banyak kasus, pengiklan berusaha untuk membentuk hubungan positif dengan produk yang mereka promosikan.

Para selebriti menjadi personal branding yang dipandang paling potensial untuk mencitrakan sebuah produk. Dengan harapan para fans dari seleb tersebut akan mengikuti pilihan produk yang diiklankan selebriti tersebut. (padahal mah ya… boleh jadi, seleb yang ngiklanin nggak memakai produk iklan. Hayooo!). Dengan membeli produk yang sama dengan selebriti idola, seolah ada ikatan batin gituuuu… iya kah? Realitasnya memang begitu sih!

Dampak Efek Paparan Belaka

Ketika kita dihadapkan pada hal-hal yang sama dalam kurun waktu yang lama, baik itu hal positif atau negatif, maka kemungkinan dampak yang ditimbulkan ada dua. Probabilitas kemungkinan ini berlaku sama pada hal positif-baik maupun negatif-buruk. Ahaha… bingung yak? Maksudnya begini….

Misal nih ya… Kamu nggak suka dengan buah durian (itu mah saya ehehe…), maka kamu nggak akan pernah memasukkan buah durian ke dalam daftar belanja kamu. Tetapi teman kamu yang tahu ‘masalah’ kamu itu, terus aja beliin kamu durian dalam beragam variannya; kue, es krim, dodol, dan semacamnya. Karena toleransi, akhirnya dengan sangat terpaksa kamu mencoba juga dan… dweeerrrr! Kamu kok jadi sukaaaa. Witing tresno jalaran soko kulino… makin sering ketemu tumbuhlah rasa cinta. Akhirnyaa… Durian…! I’m keen on you! (saya mah enggak…)

Trus kamu juga nggak suka jengkol.. disodori dan dijejali sama teman kamu terus-terusan meski dengan rayuan dan gombalan mereka yang mengatakan kalau jengkol itu lebih enak daripada daging, penawar kanker, kamu tetap geming. Ketemu setiap hari karena teman makanmu selalu sedia jengkol di ‘ransum’ siangnya. Kamu malah semakin  benci dan ogah kenal jengkol. Jengkoool… Big No…..! Awalnya nggak suka lalu ketemu tiap hari bikin MAKIN NGGAK SUKA!

Sekarang, kebalikannya. Dari zaman pertama kali punya telepon genggam, kartu perdana pilihan saya adalah XL (bukan promosi yaaa!) nggak ganti-ganti meski kata teman-teman sih, XL tuh mahal, nyedot pulsa kalau provider lain teleponan. Iya juga sih kayaknya… tapi saya  geming bahkan untuk nomor satunya lagi, saya setia dengan XL walaupun,  kerabat dan keluarga pakai Simpati semua… (bukan promo jugaaa). Pernah sih… coba pakai Simpati untuk akses komunikasi dengan keluarga, biar muraaah jatuhnya, tapi cuma bertahan sebulan kayaknya. Saya juga nggak peduli dengan tawaran promo dari provider lain, promo dari XL juga nggak pernah saya gubris kok! Ehehehe.. Saya nyaman dengan XL meski nggak pernah dapat hadiah atau bonus. Ihihiiii. Long lasting ceritanya…

Satu lagi. Saya juga sukaa banget dengan jus alpukat. setiap pesan jus, pasti artinya jus alpukat bukan melon, jeruk, buah naga, apalagi durian. Akakak. Abang jus-nya sampai hafal setiap saya pesan jus. Tapi lama-lama, bosan juga yak! Akhirnya saya coba pilih jus lainnya.

Nah ternyata…Beberapa penelitian oleh peneliti lain menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap rangsangan negatif dapat menurunkan kesukaan terhadap rangsangan itu. Hal ini menunjukkan bahwa itu adalah kesan awal dari sesuatu, apakah baik atau buruk, yang diperkuat dengan paparan berulang. Namun, penelitian lebih lanjut oleh Zajonc, Markus, dan Wilson mengemukakan bahwa presentasi berulang bahkan stimulus negatif akan menyebabkan respons yang lebih positif dengan peningkatan paparan.

Penting untuk dicatat bahwa paparan belaka bukan tentang menciptakan hubungan positif dengan stimulus. Sebaliknya, melibatkan suatu kondisi belaka, yang didefinisikan Zajonc sebagai situasi yang “hanya membuat  stimulus yang diberikan, diakses persepsi individu.” Jadi, kembali ke kesan pertama dan persepsi.

Kenapa Ceker Ayam Menjijikkan Buatku tapi Menggiurkan Buatmu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s