Sudahkah Anda Nge-Hoax Hari Ini?

Saya adalah seorang yang menikmati suguhan berita dan informasi. Saya juga senang menulis apa yang saya amati di lingkungan sekitar. Konsekuensi logisnya, laman fb saya dipenuhi oleh berita-berita dari berbagai media online pro dan amatir. Maksudnya untuk memerkaya informasi dan pembanding sebab kita maklumi bersama tak ada media yang benar-benar obyektif dalam menyampaikan sebuah fakta. Ada yang pro ke pemerintah dan ada yang amat anti pemerintah.

Selain menikmati berbagai informasi di laman fb, saya pun menikmati blog keroyokan khas netizen yang menurut saya, informasinya lebih original from the oven dari tangan pertama. Saya kerap menulis juga di sana. Interaksi pun terjalin dengan manisnya layaknya sudah saling mengenal begitu lama, padahal kopi darat juga belum pernah. Belakangan, apa yang dituliskan oleh netizen banyak yang tidak lagi original, hanya gorengan dan racikan dari informasi yang bertebaran di media sosial. Dan sejak momen pilpres 2014 lalu, terjadi kubu-kubuan yang saling serang dengan senjata andalan argumentum ad hominem. Server yang error mengabadi adalah hal lain yang dikeluhkan di blog keroyokan tersebut. Sejak itu, pelan-pelan saya mulai jarang posting tulisan dan mampir di sana hingga akhirnya saya memutuskan untuk menulis di blog pribadi ini.

Memang jauh berbeda rasanya, di blog keroyokan saya bisa mendapatkan hits bahkan mencapai ribuan (meski jarang sekali karena saya bukan penulis yang mempopulerkan diri) dan interaktif. Tapi rasanya, tujuan saya menulis kini bukan semua itu. Saya hanya ingin menuliskan apa yang saya rasakan dan yakini, terlepas dari ada atau tidak adanya hits.

Fb merupakan kanal utama saya untuk menerima perkembangan informasi aktual karena saya memang mengkonstruksnya demikian. Saya tak gemar posting status atau foto. Fb tak lebih saya jadikan sebagai koran digital. Tetapi lagi-lagi, informasi yang berseliweran seringkali tak obyektif dan menebarkan kebencian, menipu dengan ilmu cocokologi yang mengada-ada demi mendukung informasi yang disebarkannya. Tujuan media tak lagi sebagai pencerah dengan informasi faktual dan obyektifnya tetapi lebih kepada membangun kubu dengan provokatifnya. Sejak saat itu (lagi-lagi momen Pilpres 2014) saya moratorium fb.

Bukan karena saya tak mampu menyaring informasi yang membuat saya hengkang dari fb. Justeru karena saya menemukan banyaknya media informasi yang tidak memahami kode etik jurnalistik yakni menyampaikan informasi sesuai fakta dan riil di lapangan tanpa dirusak oleh subyektifitas. Kalau mau beropini, tuliskan dalam kolom opini yang tentunya bisa dipertanggungjawabkan. Informasi provokatif tersebut akhirnya memicu konflik para pembacanya dan saling hujat di kolom komentar. Seringkali OOT dengan komentar seadanya dan tidak berbobot (kalau mau berbobot, buat artikel sendiri saja ya?)😆😆😆 Tapi itulah budaya malas berpikir yang tengah menjangkiti hampir seluruh masyarakat kita; komentar asal njeplak, gemar menautkan link informasi tanpa dianalisa dulu kebenarannya asalkan mendukung pendapat dan pilihan sikapnya.

Jujur, saya tak pernah menautkan link  berita terlebih berita yang rentan konflik dan pro-kontra di fb atau grup-grup medsos. Alasan saya bahwa semua bisa dengan mudah mendapatkan informasi di jagat maya ini. Siapa mau informasi apa tinggal klik. Dalam hitungan detik, semua bisa mengetahuinya, jadi masih penting dan urgenkah pilihan sharing link berita? Saya mulai berpikir ulang. Alasan lainnya karena banyaknya media abal-abal dengan berita hoax-nya. Dan tak hanya link berita, di grup medsos yang saya ikuti banyak sekali yang copas info loker, kisah-kisah inspiratif, cocokologi yang sering hoax. Ketika ditanya dari mana sumbernya? Jawabannya sudah bisa ditebak, copas grup sebelah. Saya hanya bisa mengurut dada. Banyak sekali manusia pintar dan cerdas terjebak dengan copas instan bahkan komentar pendek  saja harus copas. 😂😂😂

Hoax kini telah menjadi konsumsi harian penikmat media sosial. Bukan hanya sebagai konsumen tetapi banyak dari mereka yang juga dengan sukarela dan semangat empatlima menjadi distributornya sehingga terbuka pasar bebas virtual dengan komoditas utamanya informasi hoax.

Amat berbahaya menebar informasi hoax  dengan cocokologinya yang mengandung unsur kebencian, fitnah, penggiringan opini dan sejenisnya. Amat besar tanggungjawab para penebar berita hoax terlebih lagi dengan semakin banyak pembaca yang terprovokasi dan memviralkan link-nya.

Ada saatnya, saya tak ingin direcoki dengan panggung sandiwara dunia yang sarat konflik kepentingan. Mungkin saya sudah sampai titik jenuh. Dan itu, bisa saya peroleh dengan melakukan moratorium aktifitas di media sosial baik fb maupun grup-grup medsos, terkecuali untuk yang benar-benar urgen dan pribadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s