Bambang Pamungkas Hanya Pemanis dalam Iklan Nivea Men


Kenal Bambang Pamungkas doong! Ya, ia adalah striker dalam olah raga sepak bola yang cemerlang dan naik daun karena prestasinya. Dia adalah pemain Indonesia yang paling banyak mengoleksi caps dan pencetak gol, dengan 85 caps dan 37 gol. Selain itu, ia seorang pemain yang paling popular di tim nasional Indonesia. Kesukesan Bepe demikian biasa ia dipanggil, dalam merumput dan menggiring bola mengantarkannya untuk menjadi selebritis di layar kaca.

Beberapa iklan menampilkan wajahnya. Mulai dari iklan susu anak-anak hingga iklan produk berjiwa manly. Hmm begitulah efek dari kepopularan. Jangankan ia, seorang atlet yang punya nama beken. Mbak penjual getuk di pinggir jalan saja bisa jadi foto model karena keisengan orang yang memotret dan memajang fotonya di media sosial. Hari gini.. untuk menjadi popular itu mudah, semudah untuk menjadi tidak popular kembali. Semua serba instan dan sesaat.

Sebenarnya saya tidak peduli dengan iklan yang ditayangkan di televisi atau di papan reklame pinggir jalan. Seringkali saya tidak ngeh kalau produk yang saya beli sudah diiklankan di layar kaca. Saking banyaknya iklan, saya nggak hafal satu per satu. Lagian, nggak wajib juga kan? Nggak ada ujiannya juga.

Nah, beberapa kali saya lihat iklan Nivea Men yang dilakoni oleh wajah Indonesia banget yang diwakili Bambang Pamungkas dan sosok blasteran ganteng Australia-Richard Kyle. Saya juga baru ngeh kalau iklan Nivea Men dengan kolaborasi dua bintang ini ternyata nggak cuma satu tetapi dua yakni untuk produk acne control brightening foam dan black & white deodorant setelah nyoutube.

Inilah Kesan yang Saya Tangkap

Pada mulanya saya ikut merasa gimana gitu, saat Bepe main di iklan. Pokoknya, kerreeen lah. Dengan karakternya yang berlatar belakang atlet, amatlah sesuai ketika ia harua membintangi iklan produk untuk pria. Istilahnya, pas banget!

Tetapi kemudian saya tertegun setelah menyaksikan rangkaian iklan itu hingga selesai. Bukan hanya 1 iklan tetapi keduanya! Apa yang saya saksikan menunjukkan bahwa sosok Bepe hanyalah figuran-pemanis dalam iklan tersebut. Apa indikasinya? Baiklah akan coba saya jabarkan.

Pertama, pada iklan acne control brightening foam setting yang dimunculkan di awal adalah Bepe dan Kyle yang sedang bermain bola. Kemudian layar kaca menampilkan wajah Kyle dengan porsi lebih dibandingkan Bepe. Bepe berperan sebagai sosok kedua yang mengikuti jejak Kyle, yang telah menggunakan facial foam untuk menghilangkan jerawat.

Selanjutnya, saat Bepe dan Kyle keluar arena dan diliput wartawan, ‘penderitaan’ Bepe berlanjut. Pada mulanya, wajah Bepe cukup mendapat sorotan kamera. Tetapi kemudian, seorang wartawati tampaknya mulai ‘sadar’ dan mengalihkan pandangannya dari Bepe, itu pun hanya melihat sekilas. Dengan antusias, wartawati memusatkan kameranya ke wajah Kyle yang lebih ganteng. Bepe sadar diri dan hanya tersenyum masam.

Pada iklan kedua, black & white deodorant. Sosok Bepe seolah mewakili produk black dan Kyle tentu saja mewakili yang putih. Sampai pada penafsiran ini, bukan masalah karena faktanya memang kulit keduanya mewakilinya. Hingga saya menyaksikan kelanjutan iklan tersebut, ternyata lagi-lagi, saya menilai Bepe dipasang hanya sebagai pemain figuran atau pemanis belaka.

Setting awal iklan pun dibuat serupa yakni berlatar belakang pertandingan sepak bola dimana Bepe dan Kyle bermain bersama. Kali ini Bepe yang berperan sebagai pemakai pertama dari produk baru kemudian Kyle mengikutinya. Meski begitu, aksi Bepe menyemprotkan deodorant ke ketiaknya tidak menjadi bagian penting (mungkin atas permintaan Bepe yang tidak pede diekspose ketiaknya, atau cara produser dan tim kreatif untuk menjaga citra Bepe, who’s know?) Justeru aksi semprot ketiak (ketiak disorot vulgar) diperankan oleh Kyle yang jelas-jelas sebagai pengekor (Meski memang biasanya dalam sebuah iklan, sosok pengekor lah yang lebih besar porsi sorotannya sebagai pembuktian hasil tetapi di iklan ini, nggak imbang bingit).  Tak cukup begitu, selanjutnya wajah Kyle lebih dominan disorot kamera sementara sosok Bepe seperti bayangan saja. Bahkan terkesan, Bepe tidak percaya diri. Kesan tersebut entah dibuat sengaja atau memang Bepe benar-benar tidak pede sehingga porsinya lebih sedikit dari Kyle.

Kenapa Saya Yakin Bepe lah Pemeran Utamanya?

Kedua iklan ini selalu diawali dengan setting pertandingan sepak bola. Siapa pun tahu, kalau Bepe adalah atlet sepak bola. Maka siapa pun akan berpikir jika Bepe lah pemeran utama dalam iklan tersebut. Sementara Kyle? Dia bukan atlet, hanya seorang model yang memang sering wara-wiri membintangi iklan. Lapangan sepak bola adalah Bepe, bukan Kyle.

Lantas mengapa sosok Bepe tenggelam oleh sosok Kyle? Padahal seharusnya, pemeran utama-Bepe yang ditonjolkan guna membangun persepsi dan mengena sasaran iklan; sibuk, pekerja keras, semangat, pantang menyerah, dan tetap terawat.

Apakah wajah dan sosok Bepe kurang marketable? Kurang mampu mencitrakan brand? Sehingga perlu memaksakan Kyle untuk menjadi pesepak bola hanya karena wajahnya lebih ganteng dan badannya lebih atletis?

Semestinya, Bepe ditonjolkan dalam iklan tersebut karena settingannya bermain sepak bola. Sebuah produk sebenarnya bukan hanya soal material dan kemasannya saja melainkan spirit serta nilai-nilai yang mencitrakan sebuah produk. Misalnya iklan rokok yang dicitrakan dengan petualangan ekstrim (melambangkan kekuatan, keberanian, yang lelaki banget) sesuai dengan citra rokok.

Tapi itulah realitas dunia pertelevisian belakangan ini. Di mana sebuah produk dicitrakan sebaik mungkin dengan menampilkan tokoh pemeran memenuhi kriteria ‘sempurna’ bahkan ketika sebuah produk ‘memanfaatkan’ sosok seseorang yang semestinya menjadi pemeran utama karena kapasitasnya, harus dibuat mengabur dengan menampilan sosok lain yang sebenarnya tidak relevan-hanya dipaksakan seperti Kyle tadi.

Wajah-wajah bule, blasteran masih diminati oleh pebisnis pertelevisian dibandingkan wajah-wajah ketimuran, asli Indonesia. Untuk itu, jangan mudah percaya iklan sebab sebenarnya, banyak iklan yang membodohi. Bagaimana tidak? Iklan produk pemutih dan pelangsing saja sudah menggunakan pemeran yang memang sudah dari sananya cantik/ganteng, langsing, dan putih.

Masyarakat Indonesia memang memiliki mental inferior-rendah diri ketika berhadapan dengan manusia bule. Nggak percaya dengan kemampuan rakyatnya. Buktinya, iklan nivea men ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s