Inilah Alasan Kenapa Larangan Membawa Motor ke Sekolah Sulit Ditegakkan

Sekolah di jenjang SMP seringkali kewalahan menangani perilaku melanggar siswa terhadap peraturan sekolah yang melarang siswa untuk membawa sepeda motor ke sekolah. Aturan itu dibuat untuk mendukung program pemerintah dan membantu tugas kepolisian dalam meminimalisir pelanggaran lalulintas dan tingkat kecelakaan di jalan raya.

Idealnya, semua warga masyarakat menjalankannya dengan penuh kesadaran diri karena bagaimana pun ini menyangkut nyawa anak-anak. Faktanya tak sedikit orang tua yang mengabaikan hal itu. Mereka dengan berbagai alasan, akhirnya memaklumi, membiarkan, bahkan mendorong anak-anak mereka untuk membawa motor ke sekolah.

Ada beragam alasan yang dikemukakan orang tua, diantaranya alasan kasihan karena sekolahnya jauh, anak mogok sekolah jika tak diizinkan membawa motor, orang tua tidak ada waktu untuk mengantar, dan alasan miris lainnya, irit ongkos. Arrinya mereka memandang murah nyawa anak mereka dengan membandingkan harga 1 liter bensin. Mereka adalah para orang tua yang ‘ingin cepat selesai’. Artinya, pemberian fasilitas motor merupakan cara instan untuk menyelesaikan masalah karena sebenarnya mereka tidak mampu dan mau mencari alternatif solusi yang pas dan sesuai bagi anak-anak mereka. Para orang tua hanya ingin, dengan diberikan motor, anak tidak lagi merepotkan pekerjaan orang tua, tidak lagi mogok, mengancam, dan membuat pusing pikiran orang tua. Dalam bahasa sederhananya bisa dikatakan “kasih yang anak mau, urusan selesai”. Padahal, dengan demikian, orang tua sedang mengajarkan kepada anak untuk menjadi sosok egois, impulsif, dan instantif yang pada gilirannya justeru akan lebih membuat pusing orang tua.

Jika ditelisik lebih dalam, semua alasan itu bermuara pada satu hal; egoisme orang tua. Ya, orang tua egois, mementingkan diri sendiri daripada kepentingan anak. Bukankah solusi instan itu sebenarnya demi menguntungkan diri orang tua? Demi membebaskan diri dari tanggung jawab mereka untuk menyediakan waktu dan keamanan bagi anak-anak mereka? Alasan demi anak, anak memaksa, sebenarnya kalimat yang menunjukkan ketidakmampuan orang tua untuk berperan sebagai orng tua. Mereka hanya tidak ingin pusing, tidak mau pekerjaan terganggu, tidak mau mengorbankan banyak waktu. Lalu kenapa mereka mau punya anak? Sebab itulah konsekuensi dari memiliki anak.

Apa yang seharusnya dilakukan orang tua?

Orang tua semestinya menjelaskan dan mengajarkan aturan dan norma sosial yang tidak boleh dilanggar anak. Bukannya menjelaskan tentang larangan mengendarai motor bagi anak di bawah umur, para orang tua justeru memfasilitiasi motor. Di sini artinya orang tua tengah mengajarkan kepada anak untuk melanggar aturan. Maka jangn kaget, ketika nantinya anak melakukan pelanggaran-pelanggaran lainnya.

Orang tua lebih memilih cara instan untuk mengatasi rengekan dan ancaman anak dengan memberikan setiap apa yang mereka mau bahkan untuk hal yng di luar kemampuan mereka, ketimbang memilih cara yang seharusnya ditempuh yakni dengan memberikan pengajaran dan pendidikan kepada anak. Merek lupa atau melupakan diri untuk mengajarkan konsep ‘sabar’,’menahan diri’, dan yang terpenting adalah konsep ‘hak dan kewajiban sebagai anak’. Tak sedikit orang tua yang gagal dalam hal ini karena tidak sabar menunggu hasilnya atau lemah menghadapi anak.

Inilah fenomena di mana kendali dan aturan dibuat dan ditentukan oleh anak, bukan oleh orang tua. Ini lah dunia di mana orang tua tunduk dan patuh kepada anaknya bukan sebaliknya. Inilah era di mana orang tua menjadi budak bagi anak-anak mereka yang menjelma menjadi sosok raja-raja kecil di rumah mereka.

Jadi sebenarnya, siapa yang melanggar aturan larangan membawa sepeda motor yang diterapkan sekolah? Jawabannya adalah orang tua! Ya, orang tua yang gagal menerjemahkan arti tanggung jawab mereka, arti kasih dan sayang mereka kepada anak. Jika kendali itu ada di tangan orang tua, mereka memahami hak dan tanggung jawab, kemungkinan pelanggaran ini dengan dampak turunannya akan selesai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s