Saya Bermain Seks di Rumah, Saat Ada Ibu

Pesta bikini para pelajar selepas Ujian Nasional berakhir, yang menghebohkan jagad maya, bukanlah sesuatu yang baru. Itu hanya satu model dari beragam bentuk perilaku bebas di kalangan remaja. Saya yakin, kita juga nggak kaget-kaget amat mengetahuinya. Sama seperti ketika kita mengetahui berita pembunuhan, perampokan, dan berita-berita komersil lainnya. Kita sudah terlalu terbiasa membaca dan mendengar berita-berita miring seperti itu. Ibarat minum obat, jika terus menerus dilakukan, akan meningkatkan gejala toleransi obat, yang berarti untuk menghilangkan rasa sakit, dosis obat harus ditambah lagi sebab penyakitnya sudah imun-mati rasa. Begitu pun bila kita terlalu sering mengonsumsi berita negatif, kepekaan rasa kita semakin berkurang. Kaget sebentar saja.

Satu hal yang saya amati bahwa remaja masa kini sudah kehilangan rasa malu untuk melakukan tindakan asusila bahkan di ruang-ruang terbuka. Apatah lagi mereka dengan kesadaran penuh merekam aktivitas asusilanya dan menyebarkannya. Mungkin apa yang saya sampaikan selanjutnya juga bukan sebuah kejutan atau kejadian luar biasa. Saya hanya ingin membuka mata, terutama para orang tua dengan anak remaja untuk merenung sejenak, apakah sudah mengenali putera-puterinya dengan baik hingga sisi-sisi terdalam mereka?

*** ^^^^ ***

Remaja dan Seks Bebas

Beberapa bulan ke belakang, saya mengamati dan menemukan beberapa kasus perilaku seks bebas dalam pola hubungan pacaran yang dilakukan remaja. Sedikit di antaranya, para remaja melakukannnya di rumah mereka sendiri. Sungguh amat disayangkan, ternyata rumah sendiri pun tidak mampu membentengi remaja dari berperilaku amoral dan asusila. Kenapa hal itu terjadi? Menurut para remaja tersebut, karena orang tua terutama ibu, yang ada di rumah justeru menyibukkan diri manakala ia dan teman-temannya atau pacarnya berkumpul. Jika pun bertanya, sekadarnya saja. Entah terlalu percaya atau masa bodoh? Remaja lainnya memilih bioskop, ruang kelas usai bubar sekolah, dan tempat-tempat sepi lainnya seperti gunung, sawah, tanggul, bahkan kuburan sebagai tempat melampiaskan hasrat.

Saya kasih tahu (eh, sudah tahu kali yak!), bahwa menurut mereka para remaja, berciuman, berpelukan, dan berangkulan adalah gaya pacaran normal dan biasa saja. Dan itu menjadi ritual wajib bagi mereka saat bertemu pacar.

Pada beberapa kasus, remaja puteri lah yang justeru menawarkan diri dan pegang kendali. Percaya atau tidak, ada lebih dari satu remaja puteri yang bergonta-ganti pacar hanya dalam hitungan hari. Diduga kuat karena mereka telah kecanduan bermain seks. Salah seorang remaja puteri lainnya mengaku, sengaja mencari pacar yang usianya dibawahnya agar bisa dikendalikan demi memenuhi hasrat seksualnya. Dan ironisnya, beberapa pacarnya saling kenal dan berteman baik. Mereka saling cerita aktivitas dan layanan sang remaja puteri, saat mereka masih berpacaran. Sungguh saya tak tahu harus bilang apa.

Lain kasus, seorang remaja puteri menawarkan diri untuk menjadi anak semang temannya sendiri sesama remaja. Anak usia SMP menjadi germo? Luar biasa pahit kenyataan ini. Mereka ngekost – yang ternyata tanpa sepengetahuan orang tua mereka – untuk transit pesta seks dengan pacar atau langganannya. Tahu tidak? Karena cuma ada satu kamar, maka mereka melakukan hubungan seksual bersama dengan pasangan masing-masing, atau yang satu menonton aksi pasangan lainnya. Hotel atau klub malam pun menjadi tempat mereka menyalurkan nafsu.

Saya sungguh miris ketika mendengar seorang remaja puteri masih dengan seragam putih-birunya menanyai kakak kelasnya; “Kak, ada kenalan om-om nggak, Bunga (bukan nama sebenarnya) lagi butuh uang nih!” atau ucapan remaja puteri lainnya dengan bangganya memamerkan lembar-lembar ratusan ribu sambil berucap; “Nih, hasil jual m***k semalam!” Jujur, kali ini saya merinding.

Di luar fenomena jual diri pada para remaja. Dalam kasus yang lebih sederhana – pacaran- remaja puteri kita, rupanya mudah terpedaya dengan rayuan gombal pacarnya. Hanya karena dikenalkan kepada orang tua dengan bumbu kalimat ‘itu bukti bahwa aku serius, tak ingin pisah dengan kamu’, ‘aku sayang kamu’, ‘cuma kamu yang ada di hatiku’, dan kalimat-kalimat gombal lainnya (sinetron banget), bobol benteng pertahanan. Begitu salah satu pengakuan seorang remaja puteri. Padahal, jika mau berpikir rasional, hari-hari mereka masih begitu panjang, fase hidup mereka masih banyak tahap hingga cukup matang untuk berumah tangga. Lalu, ketika gombalan itu saya konfirmasi kepada sang pacar, dan menantangnya untuk segera menunaikannya sebagai bentuk tanggungjawab telah merusak anak gadis orang, apa jawabannya? ‘siap-siap saja’. Saya terdiam saking bingungnya. Sedang jajan pun masih nodong sama orang tua. Faktanya, itu hanya emosi sesaat, sebab selanjutnya mereka galau dan kacau. Menangis dan menyesal. Yah, penyesalan selalu datang belakangan.

Perilaku Remaja adalah Sebuah Akibat

Apa yang kemudian saya dapati adalah, mereka para remaja labil itu hampir seluruhnya memiliki latar belakang yang memprihatinkan; dibuang dan tak diakui ibunya, terlahir dari ibu dengan masa lalu kelam, anak hasil di luar nikah, broken home, atau orang tua ganda. Jika pun dari keluarga utuh, orang tua mereka mengasuh dan mendidik begitu permisif, atau kelewat keras – tak boleh ini-harus begitu, sehingga anak memilih jalan belakang.

Disadari atau tidak, suka atau tidak, kita harus mengakui bahwa apa yang melekat pada diri anak, entah itu karakter atau perilaku adalah sebuah akibat dari bagaimana orang tua memoles, membentuk, dan memperlakukan mereka.

Sudahkah Orang Tua Mengenali Anaknya

Yang sungguh memprihatinkan, orang tua seolah tidak mengenal putera-puterinya dengan baik. Kalimat awal yang kerap keluar dari bibir adalah bahwa putera-puteri mereka di rumah merupakan anak manis dan baik-baik saja. Entah untuk menutupi rasa malu atau memang benar bahwa mereka tidak tahu perkembangan putera-puterinya. Ada atau tidak ada putera-puteri mereka di rumah, kadang orang tua tidak tahu. Ketika disodorkan curahan protes, kerinduan dan harapan putera-puterinya atas orang tuanya, mereka lalu terdiam.

Respon yang ditunjukkan orang tua pun berbeda ketika mengetahui perilaku remajanya. Shock, geram tertahan dan membela diri dengan lontaran kalimat-kalimat yang cenderung menyalahkan pihak lain sebagai penyebab putera-puterinya berperilaku buruk. Mantan pasangan, teman gaul remajanya, lingkungan pergaulan, bahkan anak remajanya sendiri adalah sosok kambing hitam yang kerap dimunculkan. Sedikit sekali yang bersedia untuk berintrospeksi diri.

Sekadar pertanyaan reflektif; Apakah kita tahu kapan ‘tamu bulanan’ puteri kita datang? Apakah kita tahu putera-puteri kita sudah punya pacar? Apakah kita tahu siapa nama teman-teman dekatnya? Apakah kita tahu nomor telepon teman dekat dan keluarganya? Apakah kita bersedia mencari tahu apakah mereka senang atau tidak dengan aturan yang kita buat? Apakah… apakah… apakah… banyak lagi pertanyaan yang bisa diajukan. Jangan-jangan, kita hanya tahu mereka tercukupi sandang dan pangannya saja, terpenuhi keinginan materialistiknya saja, tanpa mau lebih banyak mendengarkan mereka. Atau kita sering tanpa sadar menciptakan jarak yang kaku antara orangtua-anak. Yah, sepertinya inilah problem di banyak relasi orang tua-anak.

Satu hal, jika kita mendapati anak kita salah arah, sebagai orang tua harus segera introspeksi diri untuk coba flashback bagaimana pola hubungan dengan anak selama ini. Dengan cara apa dan bagaimana kita mengaliri darah dan ruhani diri dan anak-anak? Dengan rizki yang baik? Sebab jika tidak, ia akan menutup pintu-pintu ijabahnya doa dan pintu kemudahan untuk setiap permasalahan yang kita hadapi termasuk kemudahan dalam mengenali, membimbing, dan menjaga putera-puteri kita dari kerusakan perilaku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s