Perempuan atau Lelaki yang Lebih Pintar?

Saya seseorang yang biasa saja, kelihatannya saja pinter.#mujidirisendiri…. Wkwkwk. Kesan lainnya, mereka bilang saya ini terlalu serius, jaim, dan jarang senyum. Ahaha… Kalo ini, saya memang mengakui, Β saya ini termasuk tipe yang rada susah untuk berbasa-basi. Jujur saya mengatakan kalau saya tidak pintar. Modal saya hanya senang membaca dan belajar hal-hal baru berbekal rasa penasaran dan ingin tahu.

Saya akhirnya manggut-manggut ketika mengingat dan melihat apa yang ada di sekitar. Ternyata, para pemilik nilai akademik terbaik di sekolah mayoritasnya adalah perempuan, bukan laki-laki. Perbandingannya bisa 70:30 persen. Hal ini saya alami sendiri sejak masa Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Ranking terbaik hampir seluruhnya direbut oleh kaum perempuan. Ini dari sisi akademiknya saja. Kenapa bisa demikian? Kondisi ini kemudian memunculkan asumsi bahwa kaum perempuan lebih pintar dari kaum lelaki.

Benarkah demikian? Bukankah ada penelitian yang mengatakan kalau justeru otak kaum lelaki lebih besar dari kaum perempuan yang lebih mengedepankan perasaan dan emosi? Kenapa juga ilmuwan dunia hampir seluruhnya adalah kaum lelaki sejak berabad-abad lalu? Al-Kindi, Avicena, Socrates, Galileo, Darwin, Thomas Alva Edison, adalah sedikit saja nama-nama yang menjadi bukti bahwa kaum lelaki lebih pintar dari perempuan. Setidaknya, fakta yang ada demikian, jika pintar tidaknya seseorang dinilai dari keilmuannya di bidang akademik – padahal, mereka nggak sekolah formal loh… jadi…

Kaum Perempuan Matang Lebih Awal, Berarti Lebih Pintar?

Penelitian membuktikan bahwa anak perempuan matang dan dewasa lebih awal dibandingkan anak laki-laki, baik matang secara fisik maupun mental. Anak perempuan lebih dahulu memasuki masa akil baligh dan puber, yakni pada usia 9-11 tahun setelah mendapatkan haid. Sementara anak laki-laki lebih lambat pubernya, sekira usia 15-20 tahun. Dari sini saja, anak laki-laki telah tertinggal.

Pencapaian kematangan mental yang lebih awal pada anak perempuan memengaruhi perubahan perilaku dan sikap lebih awal juga menuju kedewasaan. Apalagi, jika diperhatikan, ketika anak laki-laki telah memasuki usia matangnya, perubahan itu tidak begitu tampak bila dibandingan dengan perubahan yang terjadi pada anak perempuan.

Memang benar, konsekuensi dari matang lebih awal ini, anak perempuan lebih matang terutama kognitifnya sehingga mereka memiliki ingatan, pengolahan bahasa, dan psikomotor halus yang lebih baik. Hal ini tentu saja memengaruhi proses penyerapan informasi dan belajar mereka. Anak perempuan lebih mampu bertahan untuk fokus dan tekun belajar, sepertinya ini adalah alasan yang lebih masuk akal kenapa anak perempuan lebih berprestasi di bidang akademik dibanding anak laki-laki. Ditambah lagi dengan perlakuan dan tuntutan sosial yang ditanamkan pada anak perempuan bahwa ketika mereka telah akil baligh, harus menunjukkan perilaku yang pantas yang bisa diterima sosial. Sementara anak laki-laki, cenderung tak ada tuntutan khusus pada awal usia kematangan. Maka tak heran, ketika anak perempuan telah matang, ia bisa menjadi anak yang manis dan menyenangkan sementara anak laki-laki menjadi sumber masalah dengan ulah dan perilakunya.

Tapi, tidak berarti matang lebih awal menjadikan perempuan otomatis lebih pintar dari anak laki-laki. Memang, anak perempuan mampu menunjukkan pencapaian-pencapaian akademik yang lebih baik dari anak laki-laki, pada masa-masa awal. Tapi, kemudian, anak laki-laki mengejar ketertinggalannya.

Nilai Tinggi Berarti Lebih Pintar?

Para orang tua konvensional mungkin masih menilai bahwa anakyang pintar dan cerdas bila mereka mendapatkan nilai yang tinggi di pelajaran sekolah. Para orang tua bahkan guru akan tampak senang dan bangga bila anak dan murid mampu mencapainya. Dan lagi-lagi, mereka yang mendapat nilai tinggi itu kebanyakan adalah anak perempuan. Bagi para orang tua, anak perempuan lebih tahu bagaimana cara untuk mendapat nilai yang bagus, belajar mandiri tanpa harus disuruh, berbanding terbalik dengan anak laki-laki. Kenyataannya, saat ini, di era smarthphone, anak laki-laki dan perempuan sama sulitnya untuk bertanggung jawab atas kewajibannya untuk belajar. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk bersosial di dunia maya.

Tapi tunggu dulu… beberapa tahun ke belakang telah ditemukan teori baru. Seorang Howard Gardner mengemukakan teori Multiple Intelligence bahwa kecerdasan seseorang tidak hanya dilihat dari skor IQ (Intelligence Quotient) yang tinggi melainkan dari banyak aspek. Setiap anak cerdas dalam bidangnya masing-masing. Maka, seorang anak dengan nilai akademik yang rendah bukan berarti bodoh, ia cerdas dalam bidang lainnya. Gardner menyebutkan ada 8 kecerdasan yang ditemukan pada diri seseorang dan umumnya terdeteksi dalam pola kombinasi bukan tunggal. Ada cerdas bahasa, logika matematika, musik, intrapersonal, interpersonal, kinestetik, alam, spasial, dan eksistensial.

Jadi… boleh jadi anak perempuan lebih menonjol di bidang akademik. Namun anak laki-laki juga boleh jadi lebih menonjol di bidang lainnya, seperti cerdas kinestetik, spasial, dan logika matematika. Mungkin penemuan ini yang akhirnya mendorong para peneliti untuk mengungkap faktor-faktor di belakangnya dan mendapatkan hasil temuan bahwa kaum lelaki lebih logis dan kaum perempuan lebih emosional.

Mayoritas Ilmuan Kaum Lelaki, Sebuah Bantahan?

Tentu tidak sesederhana itu seperti tidak sesederhana kaitan kematangan awal dengan kepintaran. Ada banyak faktor yang perlu dikaji. Kaum perempuan dikatakan lebih pintar karena mayoritas pencapaian akademik diraih oleh mereka. Fakta lain, ilmuwan dunia didominasi hampir seluruhnya oleh kaum lelaki. Sebuah kontradiksi?

Mungkin kita bisa melihatnya dari perspektif historis. Dahulu, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kaum laki-laki memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan diri. Mereka lebih bebas untuk tampil dan berkarya. Sebaliknya kaum perempuan tidak memiliki kebebasan itu. Kaum perempuan dipandang sebagai kaum subordinat-golongan kelas dua, yang tidak boleh tampil di muka publik. Maka, wajar saja jika yang muncul dan menonjol dalam berbagai aspek kehidupan adalah kaum lelaki. Padahal, sangat boleh jadi, pada saat yang sama, ada banyak kaum perempuan yang sebenarnya pintar dan cerdas. Sampai di sini, kita bisa memahami.

Setelah kini, kesetaraan gender mengemuka kita bisa melihat tokoh-tokoh perempuan yang muncul dan diakui dunia, tentu karena kepintaran dan kecerdasan mereka. Kita mengenal Sri Mulyani, Margaret Tatcher, Aung San Syu Ki, Benazir Butho, Hillary Clinton, dan masih banyak lagi.

Cerdas Pada Bidang yang Berbeda

Teori Multiple Intelligence membukikan bahwa setiap orang – laki-laki dan perempuan tidak lebih pintar atau bodoh atas lainnya. Maka, sebuah klaim bahwa kaum perempuan lebih pintar dari kaum lelaki atau sebaliknya, perlu dikaji ulang. Sekali lagi, baik kaum laki-laki atau perempuan bisa cerdas dan pintar dalam bidangnya masing-masing. Kondisi ini tentunya harusnya sebuah anugerah. Mereka bisa bersinergi untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing, bukan?

Iklan

9 responses to “Perempuan atau Lelaki yang Lebih Pintar?

  1. Ping-balik: “Otak Kaum Perempuan Cuma Satu, Nafsunya Sembilan!” | isti·

  2. menurutku, kalau perempuan itu pintarnya karena rajin, kalau laki laki enggak
    dan biasanya perempuan itu lebih pintarnya waktu sd smp sma (karena rajin tadi), tapi kalau udah kuliah laki laki yang lebih pintar

    Suka

    • Sepertinya demikian penjelasan yang lebih masuk akal, selain soal kesempatan barangkali. Saat ini di era kesetaraan, banyak kok perempuan yang mengungguli laki-laki. Terima kasih blogwalkingnya. SalamπŸ˜ƒ

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s