Bagaimana Cara Menghadapi Orang Negatif?

jokoptiono.com

jokoptiono.com

Pernah nggak sih, kita ketemu orang yang tutur katanya nggak ada manis-manisnya. Apa yang kita kenakan, kita tunjukkan, dan kita ucapkan selalu memiliki kekurangan dan mendapat komentar negatif lagi pedas. Orang seperti ini bisanya mencela, ngedumel, dan mengeluh. Sungguh menguras energi positif ketika kita menghadapi orang seperti ini. Apa hidupnya nggak pernah bahagia yak?

Sebagian besar dari kita menggantungkan kebahagiaan pada kualitas hubungan kita dengan orang lain karena kita adalah makhluk sosial. Kita peduli begitu banyak tentang apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Dan karenanya, kita tak selalu bisa menghindari orang-orang negatif, sebab sangat mungkin terjadi bahwa tak sedikit dari orang dengan tipe tersebut adalah orang-orang terdekat kita. Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana agar kita mampu menghadapi mereka, syukur-syukur bisa โ€˜menyembuhkanโ€™ negativitas mereka.

Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mulai dengan memahami alasan negativitas mereka. Bahwa hampir semua sikap negatif bersumber pada tiga ketakutan: takut tidak dihormati oleh orang lain, takut tidak dicintai oleh orang lain, dan ketakutan bahwa “hal-hal buruk” akan terjadi. Ketakutan ini melahirkan keyakinan bahwa “dunia adalah tempat yang berbahaya.โ€

Manifestasi ketakutan orang-orang negatif mewujud dalam berbagai bentuk, seperti;

  1. Mudah tersinggung pada komentar orang lain; misalnya, “Kamu terlihat cantik sekali hari ini” ditafsirkan sebagai, “maksudmu, aku tidak terlihat cantik kemarin?”
  2. ย Mudah menghakimi atau kecenderungan untuk menyalahkan tindakan apa adanya orang lain. Misalnya, seseorang yang tidak cium tangan saat bersalaman dinilai sebagai “tak tahu adat dan sopan santun.”
  3. Pesimis; lebih fokus pada kemungkinan-kemungkinan buruk dari pada yang baik.
  4. Menghindari risiko, khususnya di lingkungan sosial. Lebih memilih zona nyaman dengan menyembunyikan fakta-fakta yang dapat mengungkap kelemahan diri dan bisa digunakan untuk menyerangnya, dan hanya memberikan fakta-fakta yang menguntungkannya.”
  5. Kebutuhan untuk mengendalikan orang lain terutama perilaku orang terdekat.

Dari beberapa manifestasi di atas, tampak bahwa kecenderungan untuk menyalahkan faktor di luar dirinya cukup besar. Dengan demikian, orang-orang negatif cenderung berpikir, “Kalau saja orang-orang menyadari nilai saya benar, jika saja orang yang lebih baik dan dunia tidak penuh dengan bahaya, dan jika teman-teman, kerabat, dan rekan saya berperilaku seperti yang saya inginkan, maka saya akan senang! “

Sebuah cara mudah namun tidak produktif untuk membantu orang negatif adalah memberikan mereka rasa hormat, cinta, dan kontrol yang mereka dambakan. Namun, ini bisa menjadi bumerang. Kita mungkin bisa memberi dan menjaga kebahagiaan mereka dengan memenuhi keinginannya namun sampai kapan? Sementara mereka tak pernah benar-benar mau mengubah perilaku mereka.

Untuk itu, solusi alternatif yang mungkin dilakukan adalah membuat mereka mau untuk melihat sumber negativitas mereka dan menyadari bahwa negativitas mereka memicu perilaku yang buruk. Namun, tentu tidak mudah sebab umumnya, orang tidak merespon dengan baik sebuah kritik apalagi mau menerimanya sebagai sebuah nasihat.

Mungkin kita bisa melakukan alternatif lainnya; pertama, cukup dengan menahan diri, menggerutu dan menerima negativitas itu sambil berharap semua akan berubah menjadi lebih baik. Kedua, mencari bantuan dan berharap bahwa perspektif “pihak ketiga” akan membantu orang yang negatif mengakui bahwa negativitas mereka tidak membantu siapa pun.

Namun kedua pilihan ini, bagaimanapun, tidak mungkin untuk memperbaiki masalah. Menahan diri dan menggerutu dengan berharap bahwa orang yang negatif menjadi lebih positif dari waktu ke waktu, yang artinya kita hanya bersikap pasif, akan dimaknai sebagai tanda penerimaan bahwa negativitas mereka dibenarkan. Dan hanya menunggu waktu, kembali kita akan dipusingkan oleh mereka. Sementara dengan melibatkan pihak ketiga โ€“ meski itu teman dekatnya, mungkin akan menimbulkan kemarahan pada mereka, karena mereka selalu berpikir bahwa, bahkan orang-orang terdekatnya melawan dia!

Akhirnya kita harus berupaya memampukan diri untuk tetap membahagiakan diri tanpa tergantung pada sikap negatif orang lain. Kita juga perlu mematangkan diri dalam bersikap dan melibatkan unsur kasih sayang saat berinteraksi dengan orang-orang negatif. Misalnya, kita tidak terpancing saat menerima komentar negatifnya, dengan mengalihkannya ke pembicaraan yang lebih bermakna positif, seperti begini; ketika orang negatif mengingatkan kita tentang kesia-siaan mengejar impian, katakan saja bahwa kita tidak sedang merencanakan kegagalan tetapi mencoba lebih baik dari pada tidak sama sekali. Hmmm… sepertinya mudah yak! Tapi butuh tekad dan upaya cukup keras.

Intinya, ketika berkaitan dengan perasaan orang lain tetap mencoba menjadi orang yang positif. Meski memerlukan waktu yang lama, orang-orang negatif akan menghargai โ€“ meski dengan enggan โ€“ pandangan dan sikap positif yang ditunjukkan. Dan mudah-mudahan memberikan pengaruh positif pula pada perilakunya. Kita hanya perlu kerendahan hati untuk juga mengakui kekurangan diri. Fakta bahwa kita merasa sulit untuk menangani orang negatif menunjukkan bahwa ada benih negatif dalam diri kita.

Iklan

4 responses to “Bagaimana Cara Menghadapi Orang Negatif?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s