Perlukah Mengkonstruksi Gender Sejak Dini?

defotolia.com

defotolia.com

Rasanya masih sering kita mendengar dan melihat bahwa lingkungan sosial menuntut seseorang untuk berperilaku dan bertindak berdasarkan stereotipe gender, (bahwa anak lelaki itu “kuat, gagah, berani, pelindung, kasar, independen, berkuasa, agresif, sulit diatur.” Bahwa anak perempuan itu “lembut, manis, tekun, sopan, penurut, dependen, ngemong, pasif, lemah, perasa.”) dan peran gender, (bahwa anak lelaki itu “nggak boleh cengeng, harus berani, bekerja keras, berani bertanggung jawab atas segala ucapan dan tindakannya” atau anak perempuan itu, “harus menunjukkan sikap manis, nggak boleh tertawa berlebihan, banyak membantu mama.”) Bahwa anak laki-laki harus tumbuh menjadi maskulin dan anak perempuan harus feminin. Anak laki-laki adalah “made of frogs and snails” sedangkan anak perempuan “made of sugar and spice and all that’s nice”.

Nyaris tak ada orang tua yang menyarankan anak perempuannya ikut ekskul bola, menyengaja membelikannya mainan mobil-mobilan dan robot-robotan, memilihkannya kaos dan aksesoris yang memberikan kesan gagah dan berani. Orang tua cenderung memperlakukan anak perempuan dengan manis, memberikan mereka benda-benda lucu berwarna pink dan melambangkan kewanitaan seperti boneka, alat masak-masakan, dan aksesoris-aksesoris modis lainnya. Begitupun dalam memperlakukan anak laki-laki, orang tua memberikan perilaku yang lebih tegas untuk menanamkan kedisiplinan, keberanian, dan kelelakiannya. Nyaris Tak ada juga orang tua yang menyengaja membelikan anak lelakinya boneka, kaos warna pink, dan aksesoris yang dapat merusak citra kelelakian mereka. Secara tidak disadari, perlakuan yang berbeda dari para orang tua akan direkam dan mengkonstruksi pemahaman pada diri anak tentang gender, lalu menggunakannya sebagai arahan dalam perilaku hingga mereka remaja bahkan mungkin dewasa.

Perlakuan para orang tua seperti itu tidak sepenuhnya salah, asal tidak berlebihan dengan menafikan trait sebaliknya sama sekali. Bagaimana pun, pembentukan mental dan psikis seseorang, dimulai dari bagaimana mereka diperlakukan oleh keluarganya sedari kecil. Orang tua mengarahkan anak-anak agar mereka dapat tumbuh sesuai dengan peran gendernya yang selama ini terkonstruksi dan diterima di masyarakat. Sebab ada banyak anak lelaki yang tumbuh menjadi lebih feminin dibanding teman perempuannya, karena ia satu-satunya lelaki dalam anggota keluarganya. Begitu pun sebaliknya, ada anak perempuan yang menjadi lebih maskulin di banding teman laki-lakinya.

Menurut Gelman, Taylor, dan Nguyen, stereotipe gender sudah ada bahkan ketika anak berusia 2 tahun. Pada usia 5 tahun, anak laki-laki dan perempuan menilai bahwa anak laki-laki itu kuat dan negatif (kasar, misalnya) dan anak perempuan lebih positif (ramah, misalnya). Memasuki usia SD, anak-anak sudah cukup memiliki informasi tentang aktivitas mana yang berkaitan dengan anak laki-laki dan perempuan. Setereotipe gender akan meningkat ketika memasuki usia remaja, di mana terjadi perubahan fisik secara dramatis dan menimbulkan kebingungan pada remaja. Akhirnya, remaja laki-laki akan mencari aman dengan cara menjadi selelaki mungkin sesuai stereotipe gender (coba merokok, berontak, urakan). Remaja perempuan akan menjadi seperempuan mungkin sesuai stereotipe gender (hobi dandan, lebih menjaga bicara dan sikap) untuk dapat diterima oleh lingkungan.

Seiring perubahan zaman, stereotipe itu mulai terkikis ketika kaum laki-laki dan perempuan merasa tidak puas dengan beban yang ditimbulkan dari stereotipe dan peran gender ini. Bahwa maskulinitas dan femininitas ini bukanlah sebuah kontinum, di mana kecenderungan terhadap salah satu sisi berarti kecenderungan yang lebih sedikit di sisi lainnya. Seseorang dapat saja memiliki kedua trait maskulin dan feminin sekaligus (androgini). Seorang laki-laki bisa jadi lebih perasa dari perempuan, dan seorang perempuan bisa jadi lebih memiliki keberanian dari laki-laki.

Ahli gender, Sandra Bem berpendapat bahwa individu yang androgin lebih fleksibel, kompeten, dan sehat secara mental dibandingkan orang yang feminin dan maskulin. Artinya, seorang androgin dapat memenej dirinya kapan perlunya menonjolkan maskulinitas dan femininitasnya, nggak kaku.

Jadi ketimbang memaksakan anak perempuan untuk menjadi feminin dan anak laki-laki menjadi maskulin, sebaiknya orang tua mengenalkan sisi-sisi positif karakteristik kedua trait tersebut untuk kemudian diterapkan sesuai kebutuhan, situasi, dan kondisi. Anak perempuan saat ini perlu juga kompetensi untuk melindungi diri sendiri di tengah-tengah kriminalitas yang semakin marak, bukan melulu soal kekuatan fisik, tetapi kesigapan dalam mengambil inisiatif, keputusan, strategi (yang selama ini menjadi stereotipe kaum laki-laki). Anak laki-laki perlu juga menjaga kesopanan dan kesantunan dalam bergaul (yang selama ini menjadi stereotipe kaum perempuan) agar mereka dapat berinteraksi dengan baik dan diterima di masyarakat. Ini satu contoh kecil saja.

Untuk memandu perkembangan gender pada anak, ada beberapa tips yang mungkin bisa dijadikan pijakan.

Bagi anak laki-laki:
1. Dorong mereka untuk sensitif dalam hubungan sosialnya dan lebih terlibat dalam perilaku prososial.
2. Dorong mereka untuk lebih tidak agresif secara fisik dengan mengenalkan assertivitas (keterbukaan).
3. Dorong mereka untuk mengatasi emosi dengan lebih efektif, misalnya belajar mengontrol kemarahan dan mengekspresikan rasa cemas dan kecewa yang biasanya mereka pendam karena malu untuk menunjukkannya.
4. Dorong mereka untuk meningkatkan prestasi di sekolah.

Bagi anak perempuan:
1. Dorong mereka untuk merasa bangga dengan kemampuan hubungan sosial dan kepedulian mereka.
2. Dorong mereka untuk mengembangkan kompetensi diri dan ambisi yang dimiliki.
3. Dorong mereka untuk lebih assertive, tidak pasif.
4. Dorong mereka untuk berprestasi.

Selanjutnya, bantulah mereka untuk mengurangi stereotipe dan diskriminasi gender.

Iklan

2 responses to “Perlukah Mengkonstruksi Gender Sejak Dini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s