Psikopat atau Sosiopat?

bramardianto.com

bramardianto.com

Kita seringkali mendengar dan mengatakan bahwa seseorang mengidap psikopat ketika ia menunjukkan perilaku aneh, dingin, dan sadis dengan disorientasi sosial – menarik diri dari lingkungan. Pertanyaannya, apa benar seorang psikopat selalu memiliki kecenderungan untuk menarik diri? Faktanya, tak sedikit psikopat yang malah pandai bergaul dengan manipulasi sikap dan perilakunya. Lalu bagaimana dengan seseorang yang mengidap sosiopat? Pernah mendengarnya?

Psikopat dan sosiopat adalah istilah-istilah psikologi popular dalam dunia psikiatri. Keduanya merupakan gangguan kepribadian antisosial dan hingga saat ini belum ada definisi yang tegas dalam literatur penelitian psikologi. Meskipun demikian, ada beberapa perbedaan umum antara keduanya.

Pada dasarnya, kedua jenis kepribadian tersebut menunjukkan ketidakpedulian terhadap keselamatan dan hak-hak orang lain. Tipu muslihat dan rekayasa merupakan karakter utama keduanya. Bertolak belakang dengan anggapan umum di masyarakat, psikopat atau sosiopat tidak selalu identik dengan kekerasan.

Gambaran umum dari seorang psikopat dan sosiopat terletak pada diagnosis mereka bersama – gangguan kepribadian antisosial. The DSM-5 (Diagnostic and Statistic Manual-5) – wikipedia mendefinisikan kepribadian antisosial sebagai seseorang yang memiliki 3 atau lebih dari ciri-ciri sebagai berikut:

Secara teratur melanggar atau menunjukkan perilaku:

  • Terus-menerus berbohong dan menipu orang lain
  • Spontan dan tidak merencanakan sebelumnya
  • Rentan pada perkelahian dan agresivitas
  • Kurang memperhatikan keselamatan orang lain
  • Tidak bertanggung jawab, tidak dapat memenuhi kewajiban keuangan
  • Tidak merasa menyesal atau bersalah

Gejalanya dimulai sebelum usia 15 tahun, sehingga pada saat seseorang dewasa, mereka sudah ‘siap’ menjadi psikopat atau sosiopat.

Ciri-ciri dari seorang Psikopat

Para peneliti psikologi umumnya percaya bahwa psikopat cenderung untuk dilahirkan – bahwa itu merupakan kecenderungan genetik – sementara sosiopat cenderung dibentuk oleh lingkungan mereka. Psikopati mungkin berkaitan dengan perbedaan fisiologis otak. Penelitian telah menunjukkan para psikopat memiliki komponen otak terbelakang yangΒ  diduga memberi pengaruh untuk pengaturan emosi dan mengendalikan dorongan hati.

Psikopat, pada umumnya, mengalami kesulitan membentuk keterikatan emosional yang nyata dengan orang lain. Sebaliknya, mereka membentuk pola hubungan buatan dan dangkal yang dirancang untuk memanipulasi, dengan cara yang paling menguntungkan psikopat. Orang-orang di sekitarnya dipandang sebagai pion yang akan digunakan untuk meneruskan tujuan mereka. Psikopat jarang merasa bersalah atas perilaku mereka, tidak peduli berapa banyak mereka menyakiti orang lain.

Meski demikian, para psikopat seringkali dapat dilihat oleh orang lain sebagai pribadi menarik dan dapat dipercaya, tetap stabil, dan normal dalam kesehariannya. Beberapa bahkan memiliki keluarga dan hubungan yang tampaknya-penuh kasih dengan pasangan. Sementara sebagian lainnya memiliki pendidikan yang baik.

Ketika psikopat terlibat dalam perilaku kriminal, mereka cenderung untuk melakukannya dengan cara yang meminimalkan risiko untuk diri mereka sendiri. Mereka akan hati-hati merencanakan aktivitas kriminal untuk memastikan mereka tidak tertangkap, memiliki rencana alternatif untuk setiap kemungkinan.

Ciri-ciri dari sosiopat

Peneliti cenderung percaya bahwa sosiopat merupakan akibat dari faktor-faktor lingkungan, seperti anak atau pendidikan remaja dalam rumah tangga yang sangat negatif yang mengakibatkan kekerasan fisik, pelecehan emosional, atau trauma masa kecil.

Sosiopat, secara umum, cenderung lebih spontan dan tidak menentu dalam perilaku mereka daripada rekan-rekan mereka yang psikopat. Sosiopat juga kesulitan dalam membentuk keterikatan dengan orang lain, meski beberapa sosiopat mungkin dapat membentuk keterikatan pada seseorang atau kelompok yang berpikiran sama. Tidak seperti para psikopat, kebanyakan sosiopat tidak tahan untuk pekerjaan jangka panjang atau berinteraksi dengan akrab baik dengan keluarga atau dunia luar.

Ketika sosiopat terlibat dalam perilaku kriminal, mereka dapat melakukannya dengan cara yang spontan dan sebagian besar tidak direncanakan, dengan kurang memperhatikan risiko atau konsekuensi dari tindakan mereka. Mereka mungkin menjadi gelisah dan marah dengan mudah, kadang-kadang menyebabkan ledakan kekerasan.

Siapakah yang Lebih Berbahaya, psikopat atau sosiopat?

Baik para psikopat dan sosiopat mendatangkan risiko bagi masyarakat, karena mereka sering akan berusaha dan menjalani kehidupan normal sambil mengatasi gangguan mereka. Tapi gangguan psikopat kemungkinan lebih berbahaya, karena mereka memiliki rasa bersalah jauh lebih sedikit terkait dengan tindakan mereka.

Seorang psikopat juga memiliki kemampuan yang lebih besar untuk memisahkan diri dari perbuatan mereka. Tanpa keterlibatan emosional, rasa sakit yang orang lain derita tidak berarti untuk psikopat. Banyak pembunuh berantai yang terkenal telah menjadi para psikopat.

Tidak semua orang yang kita sebut psikopat atau sosiopat lekat dengan kekerasan. Kekerasan bukanlah unsur penting (juga bukan untuk diagnosis gangguan kepribadian antisosial) – tetapi sering muncul.

Tanda-tanda psikopat atau sosiopat pada masa kanak-kanak

Tanda-tanda mengenai psikopat dan sosiopat pada umumnya dikenali sejak kecil. Kebanyakan orang yang nantinya dapat didiagnosis dengan sosiopati atau psikopati memiliki pola perilaku di mana mereka melanggar hak-hak dasar atau keselamatan orang lain. Mereka sering melanggar aturan (atau bahkan hukum) dan norma-norma sosial sebagai seorang anak.

Psikolog menyebut jenis-jenis perilaku masa kanak-kanak sebagai gangguan perilaku dengan melihat empat kategori perilaku bermasalah:

Agresi kepada orang-orang dan hewan

Penghancuran barang atau benda
Kebohongan atau pencurian
Pelanggaran serius terhadap aturan

Jika Anda mengenali gejala-gejala ini (dan gejala spesifik gangguan perilaku) pada anak atau remaja, mereka berisiko lebih besar untuk gangguan kepribadian antisosial.

Psikopat dan sosiopat merupakan label budaya yang berbeda dan diterapkan pada diagnosis gangguan kepribadian antisosial. Hingga 3 persen dari populasi mungkin memenuhi syarat untuk diagnosis gangguan kepribadian antisosial. Gangguan ini lebih umum tampak pada kaum laki-laki dan sebagian besar terlihat pada mereka yang mengonsumsi alkohol atau penyalahgunaan obat. Psikopat cenderung lebih manipulatif, dapat dilihat oleh orang lain sebagai sosok yang simpatik dan menarik, menjalani kehidupan tampak normal, dan meminimalkan resiko dalam kegiatan kriminal. Sementara sosiopat cenderung lebih tidak menentu, marah-gelisah, dan tidak mampu menjalani kehidupan normal sebaik psikopat. Ketika sosiopat terlibat dalam kegiatan kriminal, mereka cenderung untuk melakukannya dengan cara yang ceroboh tanpa memperhatikan konsekuensi.

sumber: differences between a psychopath vs socipath

Iklan

6 responses to “Psikopat atau Sosiopat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s