Hoarding Syndrome

klikunic.blogspot.com

klikunic.blogspot.com

Belajar ilmu psikologi memberikan saya pemahaman untuk melihat sebuah gejala dan fenomena perilaku seseorang dari sudut pandang lain terutama dari sisi psikologis individu dan lingkungan sekitar, termasuk perilaku yang muncul pada orang-orang di dekat saya.

Dulu ketika nenek masih hidup saya kerap melihat kamar beliau dipenuhi dengan barang-barang yang sebenarnya sudah tidak diperlukan dan berguna baginya. Ada tumpukan plastik kresek, kaleng biskuit, piring kaleng, gelas-gelas plastik, kain-kain belel bahkan hingga makanan yang sudah berjamur dengan tata letak yang sekenanya membuat kamar beliau tampak berantakan. Pernah suatu ketika saya membuang makanan itu, saya kena semprot dan dibilang kalau makanan itu masih bisa dimakan (mungkin faktor mata beliau yang sudah tidak awas sulit membedakan makanan yang layak makan dan tidak, meski lidah dan hidung beliau masih bisa membedakannya?) Saya juga diceramahi untuk tidak membuang-buang barang seenaknya sebab dulu untuk mendapatkan sesuatu itu amat susah.

Pernah juga pakaian yang saya buang dan menurut nenek masih bagus, diambil dan disimpannya, padahal beliau tidak mungkin memakainya. Alasan nenek suatu saat pakaian itu akan berguna untuk si B (salah seorang kerabat) nanti kalau ia sudah besar. Padahal itu akan terjadi beberapa tahun kemudian. Akhirnya sering sebelum membuang barang, saya terlebih dahulu menghancurkannya sehingga tidak mungkin lagi digunakan atau sekedar disimpan. Kecuali untuk pakaian layak pakai, saya selalu ajak ibu menyortir dan ibu menentukan siapa yang mungkin cocok dengan baju pakaian tersebut, tidak lagi ditimbun.

Hobi menimbun barang ini bisa menjadi sebuah gangguan psikologis yang disebut hoarding syndrom dan penimbunnya disebut hoarder. Hoarding syndrom merupakan bagian dari obsessive compulsive disorder (OCD), yakni sebuah rasa cemas akibat khawatir berlebihan akibat kondisi tertentu. Untuk menghilangkan kekhawatiran ini seseorang dengan OCD akan melakukan hal-hal tertentu. Bagi seorang hoarder, ia akan merasa nyaman menimbun barang untuk mengantisipasi dan menghilangkan kekhawatiran ketidaktersediaan barang saat ia membutuhkannya kelak entah kapan. Ternyata memang fenomena hoarding hampir terjadi secara merata pada kaum lansia. Hal ini saya ketahui setelah mendengar keluhan beberapa teman mengenai perilaku hoarding orang tua (terutama ibu dan nenek) dengan alasan yang hampir sama yakni bahwa dulu tidak mudah memperoleh barang dan harus disimpan baik-baik untuk jaga-jaga kalau suatu saat membutuhkannya. Sejauh yang saya lihat, perilaku menimbun pada lansia kami, masih dalam batas kewajaran sebab saya tidak melihat ada kecemasan pada para lansia ini saat harus merelakan barang timbunannya dikurangi sedikit demi sedikit. Penimbunan mereka hanya karena kebiasaan dan latar belakang dari pengalaman lampau mereka yang hidup dalam ekonomi serba terbatas. Meski tak menutup kemungkinan beberapa lansia memang terserang hoarding disorder karena trauma kehilangan.

Kini hoarding syndrom bahkan menimpa sembarang usia dan gender yang lebih dipengaruhi oleh gejala-gejala psikologis yang lebih kompleks, bukan lagi faktor ekonomi seperti yang terjadi pada nenek dan ibu saya serta teman-teman lain. Ada dua faktor yang meyebabkan seseorang menjadi seorang hoarder. Pertama, faktor internal seperti sifat perfeksionis, merasa terisolasi secara sosial, genetik, dan memiliki ketertarikan kuat terhadap harta. Kedua, faktor eksternal yakni pengalaman yang tidak menyenangkan dalam hidupnya terkait dengan kehilangan seperti kematian, perceraian, bankrut, dan kehilangan barang-barang berharga.

Dr. David Tolin seorang peneliti dari Pusat Gangguan Kecemasan di The Institute of Living – Hartford Hospital Connecticut, berdasarkan hasil penelitiannya mencatat bahwa perilaku hoarding kerap terjadi karena berkaitan dengan barang-barang pribadi seperti: disorganisasi, emosional yang sangat kuat terhadap benda-benda, kecemasan dalam membuang barang, kesulitan memutuskan apa yang harus dilakukan dengan harta, atau kesulitan melupakan hal-hal. Satu lagi, shopoholic (gila belanja untuk sesuatu yang tidak benar-benar dibutuhkan).

Sebenarnya seberapa mengganggu perilaku hoarding ini sehingga perlu ditangani? Membayangkan tinggal dalam tumpukan barang-barang usang dan tidak terjamin kebersihannya tentu membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan. Debu-debu yang tertimbun di atas barang bisa menyebabkan penyakit ispa dan beragam penyakit lainnya. Barang yang berserakan juga bisa menghambat aktifitas hoarder bahkan membahayakan, mungkin tersandung, melukai dan hal-hal buruk lainnya. Dari sisi psikologis, seorang hoarder berada dalam kecemasan yang berlebihan dan secara ekstrim hidup dalam hayalan ketakutan-ketakutan akan kehilangan demi kehilangan yang tidak riil.

Saran Dr. David untuk para hoarder adalah dengan menemui terapis kognitif perilaku dan hidup dalam keteraturan sehingga menciptakan suasana yang menyenangkan dan menyehatkan. Saya menambahkan beberapa hal yang perlu dilakukan bagi orang di seitar hoarder berdasarkan pengalaman yang saya lakukan selama ini;

– hancurkan barang-barang yang tidak terpakai sehingga tidak memungkinkan bagi hoarder untuk mengambilnya kembali. – bersihkan setiap ruangan dari barang-barang yang tidak terpakai dan atur tata letaknya dengan rapi. – sediakan tempat atau ruangan khusus untuk menyimpan benda-benda usang namun masih layak pakai. – ajak hoarder untuk ikut menyortir barang-barang yang layak dan tidak untuk dipakai kembali. Tanyakan benda mana yangΒ Β  hanya benar-benar ingin disimpan. – berikan pemahaman dan contoh untuk sering berbagi dengan orang lain (saya sebisa mungkin membawa buah tangan untuk dibagikan kepada saudara dan beberapa tetangga dekat setiap dari luar kota dan melibatkan ibu dalam membagikannya). – dampingi si sophoholic dan jadilah konsultan bijak atau rem baginya ketika ia sudah kebablasan (saya juga tak jarang melakukannya untuk teman yang gila belanja dan lapar mata).

Iklan

8 responses to “Hoarding Syndrome

  1. Kalau hal itu terjadi pd laki2 usia di bawah 40th, apakah dlm hal wajar? atau sdh termasuk parah ya…… cara mengatasinya bgmn krn keras kepala sekali

    Suka

    • Salam sore
      Hoarders kini lintas usia dg faktor pemicu yg smakin kompleks. Bisa dicari tahu dulu apa faktor penyebabnya untuk bisa menemukan solusinya. Sedikit gambaran upaya yg bisa dilakukan, dapat dibaca di artikel ini.

      Terima kasih blog walkingnya πŸ˜ƒ

      Suka

      • Capek dengan hoarder

        Ak bersih in barang ibu Ku ya yg g kepake berdebu kadaluarsa
        1. Bertengkar hebat sampai kakak Ku
        2. Anak Durhaka, kurang ajar, g bijaksana
        3. D sumpahin g Selamat

        Capek ngurusin hoarder

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s